EKSPOSKALTIM, Sangatta - Gelombang perceraian di Kabupaten Kutai Timur kian mengkhawatirkan. Sepanjang 2025, ratusan rumah tangga berakhir di meja Pengadilan Agama Sangatta, dengan persoalan ekonomi, judi online, hingga kekerasan dalam rumah tangga menjadi pemicu utama.
Pengadilan Agama Sangatta mencatat 848 kasus perceraian selama tahun 2025. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 567 kasus, menandakan tekanan serius dalam ketahanan rumah tangga masyarakat Kutai Timur.
Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Sangatta, Abdulrahman Sidik, menyebut dari 1.493 perkara yang diselesaikan sepanjang tahun lalu, 848 di antaranya berujung pada penerbitan akta cerai.
“Sebanyak 848 akta cerai kami keluarkan selama 2025,” ujar Abdulrahman, dikutip dari antara, Sabtu (17/1).
Data pengadilan menunjukkan mayoritas perceraian merupakan cerai gugat yang diajukan oleh pihak perempuan. Fenomena ini, menurut Abdulrahman, tak lepas dari persoalan mendasar dalam rumah tangga yang terus berulang.
Faktor ekonomi masih menjadi penyumbang terbesar, disusul judi online, perselingkuhan, serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Kebanyakan itu masalah ekonomi. Ada juga KDRT, sehingga mayoritas perkara adalah gugat cerai,” jelasnya.
Meski demikian, Pengadilan Agama Sangatta mengaku tidak serta-merta mengabulkan seluruh permohonan perceraian. Upaya mediasi tetap dikedepankan untuk memberi ruang bagi pasangan meninjau ulang keputusannya sebelum perkara diputus hakim.
“Tidak semua permohonan langsung dikabulkan. Ada yang mencabut gugatan atau berakhir di tahap mediasi,” katanya.
Abdulrahman menambahkan perkara perceraian masih didominasi masyarakat umum, meski tercatat pula beberapa kasus melibatkan pasangan berstatus aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri.
Lonjakan angka perceraian ini menjadi sinyal bahwa persoalan rumah tangga di Kutai Timur tak lagi bersifat privat semata, melainkan telah menjelma menjadi isu sosial yang menuntut perhatian lebih luas, terutama terkait tekanan ekonomi dan dampak judi online yang kian masif.


