Penelitian kolaboratif Universitas Mulawarman, BRIN, dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara menemukan lonjakan signifikan keanekaragaman hayati di bentang alam Wehea–Kelay, Kalimantan Timur—wilayah nonkonservasi yang justru menjadi habitat penting satwa langka dan terancam punah.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Bentang alam Wehea–Kelay kembali menegaskan perannya sebagai salah satu kantong keanekaragaman hayati terpenting di Kalimantan Timur. Penelitian terbaru yang dilakukan Universitas Mulawarman (Unmul), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mencatat penambahan 275 jenis flora dan fauna dibandingkan riset serupa pada 2016.
Dengan temuan terbaru ini, total kekayaan hayati di kawasan Wehea–Kelay mencapai 1.618 jenis. Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menjelaskan peningkatan tersebut dipengaruhi oleh metode riset yang semakin maju, termasuk penggunaan kamera jebak dan perekam suara bioakustik, serta kuatnya komitmen para pemangku kepentingan di kawasan tersebut.
“Selain metode yang lebih baik, para pihak di Wehea–Kelay memiliki visi dan misi yang sama dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati,” ujar Tri dalam Simposium Biodiversitas Wehea–Kelay di Samarinda, dikutip dari antara.
Sejumlah satwa kunci dan dilindungi tercatat masih bertahan di kawasan ini, antara lain orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio), lutung kutai (Presbytis canicrus), rangkong gading (Rhinoplax vigil), trenggiling (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), bangau Storm (Ciconia stormi), macan dahan (Neofelis diardi), hingga kucing merah (Catopuma badia).
Menariknya, Wehea–Kelay bukan kawasan konservasi formal. Dari total luas sekitar 532.143 hektare, hanya 19 persen yang berstatus hutan lindung. Sisanya berada dalam konsesi kehutanan, perkebunan, serta area kelola masyarakat. Meski demikian, kawasan ini justru menjadi habitat penting satwa langka, termasuk orangutan yang hidup di luar kawasan konservasi.
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menyampaikan bahwa pengelolaan kolaboratif Wehea–Kelay telah berjalan sejak 2015. Penetapan bentang alam ini mengikuti sebaran alami orangutan Kalimantan yang terkoneksi oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan sebagian hulu Sungai Telen.
Selain sebagai habitat satwa, Wehea–Kelay juga memegang peran ekologis strategis. Kawasan ini merupakan hulu penting bagi Sungai Mahakam dan Sungai Segah, dengan lebih dari 5.000 kilometer daerah aliran sungai yang menopang kehidupan di Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Sekitar 80 persen wilayahnya masih berupa hutan, yang diperkirakan menyimpan cadangan 191 juta ton karbon dioksida ekuivalen.
“Studi terakhir menunjukkan pengelolaan kolaboratif memberi dampak positif. Kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya bisa berjalan beriringan dengan menjaga biodiversitas, termasuk habitat orangutan di luar kawasan konservasi,” kata Herlina.
Tak hanya perlindungan ekosistem, pengelolaan Wehea–Kelay juga diarahkan pada pemanfaatan berkelanjutan. Melalui inovasi bioprospeksi, kajian terhadap 60 jenis tumbuhan hutan—yang terinspirasi dari pakan orangutan—menemukan 11 jenis berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, mulai dari bahan kesehatan, antidiabetes, antikanker, hingga sitotoksik.



