Di tengah bentang alam yang sebagian besar bukan kawasan konservasi, kamera jebak merekam kehadiran macan dahan dan beruang madu. Temuan ini menegaskan Wehea–Kelay, Kalimantan Timur, masih menjadi ruang hidup satwa langka yang kian terdesak.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Keberadaan macan dahan dan beruang madu kembali terkonfirmasi di Bentang Alam Wehea–Kelay, Kalimantan Timur. Dua satwa kunci yang berstatus terancam punah itu terekam dalam penelitian kolaboratif Universitas Mulawarman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sepanjang 2025.
Temuan tersebut sekaligus menegaskan bahwa Wehea–Kelay, kawasan yang sebagian besar berada di luar area konservasi resmi, masih menyimpan ekosistem hutan dengan fungsi penting bagi satwa liar. Selain macan dahan (Neofelis diardi) dan beruang madu (Helarctos malayanus), peneliti juga mencatat keberadaan orangutan Kalimantan, lutung kutai, rangkong gading, trenggiling, bangau Storm, hingga kucing merah.
Hasil penelitian itu dipaparkan dalam Simposium Biodiversitas Wehea–Kelay di Samarinda, 14 Januari 2026. Dari total luas 532.143 hektare bentang alam tersebut, hanya sekitar 19 persen yang berstatus hutan lindung. Selebihnya merupakan konsesi kehutanan, perkebunan, dan wilayah kelola masyarakat.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menjelaskan bahwa macan dahan dan beruang madu merupakan indikator penting kesehatan ekosistem hutan. Kedua satwa ini membutuhkan tutupan hutan yang relatif utuh dan gangguan manusia yang rendah untuk bertahan hidup.
“Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun berada di luar kawasan konservasi, Wehea–Kelay masih memiliki kualitas habitat yang mendukung satwa-satwa kunci,” ujar Tri.
Teknologi Kamera Jebak Ungkap Lebih Banyak Satwa
Identifikasi satwa dilakukan melalui pemantauan intensif menggunakan kamera jebak dan perekam suara bioakustik. Metode ini memungkinkan peneliti merekam kehadiran satwa yang sulit dijumpai secara langsung, termasuk predator nokturnal seperti macan dahan.
Secara keseluruhan, penelitian tematik biodiversitas di Wehea–Kelay berhasil mencatat 1.618 jenis flora dan fauna, bertambah 275 jenis dibandingkan penelitian serupa pada 2016. Data tersebut mencakup mamalia terestrial, burung, reptil, amfibi, serangga, hingga ratusan jenis tumbuhan hutan.
Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Abdunnur, menilai temuan ini penting untuk mengoreksi narasi bahwa kawasan non-konservasi identik dengan degradasi.
“Data lapangan menunjukkan kawasan ini masih berfungsi sebagai habitat penting satwa liar. Ini menjadi modal kuat untuk memperbaiki tata kelola hutan berbasis lanskap,” katanya.
Hulu Sungai dan Penyangga Iklim
Bentang Alam Wehea–Kelay ditetapkan mengikuti sebaran orangutan Kalimantan dan sungai-sungai besar seperti Sungai Kelay dan Sungai Wehea. Kawasan ini juga berperan sebagai hulu Sungai Mahakam dan Sungai Segah, yang menopang kehidupan ribuan warga di Berau dan Kutai Timur.
Sekitar 80 persen wilayah Wehea–Kelay masih berupa hutan dengan potensi simpanan karbon mencapai 191 juta ton setara CO . Selain berperan dalam mitigasi perubahan iklim, kawasan ini menjadi ruang hidup satwa-satwa langka yang kian terdesak oleh alih fungsi lahan.
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menyebut pengelolaan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, dan lembaga riset menjadi kunci bertahannya satwa-satwa tersebut.
“Keberadaan macan dahan dan beruang madu di luar kawasan konservasi menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Rujukan Pengelolaan Lanskap
Saat ini, pengelolaan Wehea–Kelay melibatkan 23 pihak, termasuk pemegang konsesi kehutanan yang telah memiliki sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan, serta Masyarakat Adat Wehea yang mengelola Hutan Lindung Wehea.
Direktur Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menilai praktik di Wehea–Kelay layak dijadikan rujukan nasional.
“Keberhasilan menjaga satwa kunci seperti macan dahan dan beruang madu di tengah tekanan alih fungsi lahan menunjukkan konservasi tidak harus selalu bergantung pada kawasan konservasi formal,” ujarnya.


