PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Ancaman Gawai terhadap Perkembangan Motorik Anak

Home Berita Ancaman Gawai Terhadap Pe ...

Psikolog Kaltim memperingatkan maraknya penggunaan gawai sebagai “pengasuh instan” mengancam perkembangan motorik anak usia dini di tengah lemahnya literasi pengasuhan digital orang tua.


Ancaman Gawai terhadap Perkembangan Motorik Anak
Mengajak anak-anak ke perpustakaan merupakan salah satu upaya positif menjauhkan ketergantungan terhadap gawai. ANTARA/Ahmad Rifandi.

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Psikolog di Kalimantan Timur, Nuraida Wahyu Sulistyani, mengingatkan pentingnya keterampilan pengasuhan digital bagi orang tua untuk mencegah dampak negatif penggunaan gawai terhadap perkembangan anak usia dini.

Ia menilai praktik penggunaan gawai sebagai “pengasuh instan” kian marak, terutama ketika orang tua mencari cara cepat agar anak tetap diam saat mereka beraktivitas, termasuk membuat konten.

“Banyak orang tua saat ini mencari jalan pintas dengan memberikan gawai agar anak diam sementara mereka sibuk sendiri, termasuk membuat konten,” ujar Nuraida dikutip Minggu (30/3).

Ketua Majelis Psikologi Wilayah Kalimantan Timur itu menegaskan interaksi satu arah dari layar gawai dapat menghambat kemampuan sensorik dan motorik anak, khususnya pada masa usia emas satu hingga lima tahun.

Menurut dia, pengenalan teknologi pada anak usia dini masih diperbolehkan, namun harus tepat sasaran dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan.

Di sisi lain, Nuraida juga mengkritik praktik eksploitasi anak di media sosial oleh orang tua demi meraih popularitas atau keuntungan finansial.

“Setiap anak memiliki harga diri utuh sehingga mereka mungkin tidak ingin diekspos secara publik ketika sedang sakit atau dalam kondisi berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pengasuhan di era digital tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga.

Oleh karena itu, orang tua diminta memprioritaskan pembelajaran pengasuhan digital sebelum mendorong anak pada aktivitas lain yang belum sesuai usia.

Nuraida juga tidak menyarankan balita mengikuti pembelajaran bahasa asing melalui media digital karena dinilai tidak sesuai dengan tahap perkembangan kognitif.

Pada usia tersebut, anak masih berada pada fase meniru lingkungan sekitar, belum sampai pada tahap memahami atau menganalisis informasi secara utuh.

Sebagai gantinya, ia menekankan pentingnya aktivitas fisik langsung untuk mengasah kemampuan motorik anak.

“Aktivitas sederhana seperti belajar menggunting kertas, menggambar bentuk bebas, atau bermain sepeda dinilai jauh lebih krusial dibandingkan memaksakan kursus akademis dini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kapasitas kecerdasan intelektual anak akan berkembang secara alami seiring dengan kematangan fungsi motoriknya.

Karena itu, orang tua juga diminta selektif dalam memilih sekolah yang kurikulumnya sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :