Konsumsi makanan tinggi lemak selama Lebaran perlu segera diseimbangkan, dengan pengaturan pola makan dan asupan gizi yang lebih terkontrol.
EKSPOSKALTIM - Ahli gizi di Kalimantan Timur, Fitriyah Noor Aini Abdullah, mengingatkan pentingnya mengembalikan pola makan seimbang setelah perayaan Idulfitri.
Menurutnya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menerapkan pedoman “Isi Piringku”, dengan memastikan komposisi makanan dalam satu piring tetap proporsional.
“Sangat penting mengembalikan komposisi makanan yang seimbang dalam satu piring,” ujar Fitriyah, dikutip Jumat (27/3).
Ia menekankan perlunya menyeimbangkan asupan karbohidrat dengan serat dari sayur dan buah. Kandungan serat tersebut membantu tubuh memecah partikel kolesterol jahat dari makanan bersantan yang banyak dikonsumsi selama Lebaran.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tetap mengikuti batas konsumsi gizi harian yang dianjurkan Kementerian Kesehatan, yakni maksimal empat sendok makan gula, satu sendok teh garam, dan lima sendok makan lemak per hari.
Untuk menyiasati banyaknya hidangan saat halalbihalal, Fitriyah menyarankan pola makan dalam porsi kecil namun lebih sering.
Ia juga mengingatkan agar pemilihan menu lebih selektif, dengan memperbanyak sayuran serta membatasi konsumsi karbohidrat berlebih.
Di dapur rumah tangga, penggunaan minyak goreng juga perlu diperhatikan. Ia menyarankan minyak tidak digunakan berulang lebih dari tiga kali.
Sebagai alternatif sumber protein, Fitriyah merekomendasikan konsumsi ikan gabus atau haruan yang dikenal kaya albumin untuk membantu perbaikan jaringan tubuh.
Kebiasaan minum teh setelah makan juga sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu penyerapan protein dan berpotensi memicu anemia.
Selain pola makan, pemenuhan cairan tubuh juga menjadi perhatian. Ia menyarankan konsumsi air putih minimal delapan gelas per hari.
Menurutnya, kombinasi pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang konsisten menjadi langkah utama untuk mengurangi dampak konsumsi makanan tinggi lemak selama Lebaran.


