google-site-verification: google21951ce8c6799507.html
PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Lungun yang Tersembunyi di Balik Pesona Batu Dinding

Home Berita Lungun Yang Tersembunyi D ...

Lungun yang Tersembunyi di Balik Pesona Batu Dinding
Objek wisata alam di Mahakam Ulu mempunyai banyak pesona tersendiri, salah satunya keberadaan peti mati atau lungun milik masyarakat Dayak zaman dulu. (EKSPOSKaltim/Arsyad)

SELEPAS tengah hari, Rusli (30), seorang pemuda asal Datah Bilang Kecamatan Long Bangun selalu  menghabiskan waktu di sekitar Pegunungan Batu Dinding bersama rekan-rekan sekolahnya. 

Anak ketiga pemilik salah satu penginapan tersohor yang ada di Kabupaten Mahulu ini rela mengayuh sampan miliknya menuju arah hilir untuk dapat sampai ke kawasan yang terdapat bebatuan karst di tepi kiri Sungai Mahakam itu. Ya, Batu Dinding merupakan tempat bermain Rusli dan rekannya.  

Tapi kini, semenjak pasang-surut air sungai yang menjadi-jadi, hal itu tak dilakukan oleh bocah-bocah pada zaman sekarang. Tak kala air sungai meninggi, kata Rusli, orang dewasa pun enggan bermain di sana. Sementara untuk mencari pijakan di Batu Dinding sangatlah sulit mengingat kawasan tersebut licin, dan curam.  

Bahkan, cerita Rusli, pernah pada sekira 1990an pemanjat profesional yang bernama Dadang yang juga warga pendatang merenggang nyawa akibat terjatuh saat memanjat tebing Batu Dinding. 

"Mengenai lengkungan dasar bebatuan tewas di tempat, saya masih ingat persis peristiwa itu,” jelas Rusli.  

Jauh berkembang, kawasan Batu Dinding di Mahulu sudah menjadi objek wisata alam tersohor. Batu Dinding sendiri merupakan sekumpulan bebatuan karst yang terbentuk beribu-ribu tahun lamanya. Menjulang tinggi sekira 80 meter dan membentang sepanjang 10 kilometer di tepi bibir sungai.   

Bak sebuah dinding pembatas, objek ini bagai gerbang selamat datang bagi siapa saja yang melewati Mahulu melalui transportasi sungai. Selain itu, sekadar diketahui tempat ini sekarang menjadi objek wisata karst yang masih alami, belum tersentuh aktivitas pembangunan di Kaltim seperti pabrik semen.  

Nah, jika terus ada, fenomena bebatuan kapur ini tentu akan menjadi ikon sepanjang masa di kawasan hulu Mahakam. Daya tariknya juga akan menggugah masyarakat untuk terus menggunakan jasa transportasi sungai dari atau ke Mahulu. 

Sebab, selain memiliki bentang alam yang unik, pemerintah saat ini tengah gencar-gencarnya melakukan perbaikan akses jalan darat Kubar-Mahulu yang saat ini kondisinya hancur lebur karena masih berupa tanah. Jika hujan tiba, jalan sekitar lekat dengan istilah jalan bubur atau berlumpur.      

Saat ngilir, istilah menuju ke hilir dari Mahulu, media ini berkesempatan untuk melihat Batu Dinding. Ya, kawasan yang lumayan terjangkau. Jika dari kampung terdekat, yakni Long Melaham jarak tempuhnya hanya berkisar 5 menit menggunakan speed boat.  

Jika melintas saat pagi hari, melalui Batu Dinding, sinar matahari perlahan akan muncul dari arah belakang bebatuan karst tersebut. Pepohonan yang rindang, udara yang segar membuat suasana di kawasan tersebut cukup menyejukkan.  

Seorang penumpang speed boat menyempatkan selfie saat melintas di Batu Dinding. (EKSPOSKaltim/Arsyad)  

Batu Dinding memang memiliki yang panorama indah. Pada bagian bawah Batu Dinding terdapat sebuah gua kering yang cukup besar dengan keberadaan stalaktit dan stalakmit yang masih lengkap. Goa ini belum banyak diketahui oleh masyarakat pada umumnya.  

"Dulu kami main-main kesana itu karena kami penasaran dengan goa yang ada di bawahnya. Eh, kebetulan benar dan bisa sandar perahu kami," kata lelaki yang kini memiliki usaha speed boat di Ujoh Bilang, ibu kota Kabupaten Mahulu.     

Selain itu, di balik pesonanya, cerita mengenai keberadaan makam kuno suku Dayak zaman dulu di kawasan Batu Dinding sudah sering terdengar. Rusli turut membenarkan cerita itu. Kata dia, makam kuno yang pertama ia temui berada tak jauh dari mulut goa di bawah Batu Dinding. Banyak peti mati atau lungun milik masyarakat Dayak zaman dulu yang diletakkan begitu saja tanpa proses penguburan.    

Lungun atau peti mati dalam kebudayaan masyarakat adat Dayak sendiri diketahui diletakkan di dalam sebuah rumah panggung yang menghadap ke sungai disebut juga rumah lungun. Peti mati ini menyerupai perahu dengan motif burung Enggang dan pinggir awan merupakan sarana atau kendaraan arwah yang meninggal menuju alam baka. Tutupnya menyerupai atap rumah bermotif naga dan biawak yang menunjukkan status sosial. 

 Lungun Dayak. (ist)    

Sementara lungun yang ada di Batu Dinding, kata Rusli, diletakan begitu saja. Berjejer dan tak beraturan. Jumlahnya tak hanya satu, melainkan puluhan. Kondisi lungun juga sudah tak terawat. Terlebih karena terbuat dari kayu ulin, kata Rusli, banyak aksi penjarahan yang kerap dilakukan.   

"Sering dulu masih kecil main-main di sana. Waktu itu iseng pakai perahu dari (Long) Melaham gak sampai 5 menit. Lalu menyusur ke dalam tepi bawah batu dinding. Dalam goa banyak terdapat peti kuno (lungun), tapi ada di sana sudah rusak tidak memiliki penutup karena kayunya pada diambilin," kata dia.  “Ditinggalkan begitu saja, tidak pernah liat jika ada yang ziarah kesana,” sambung dia.    

Tak hanya pada bagian dalam. Juga terdapat dua liang yang berisi dua lungun lainnya di tepi tebing bagian luar Batu Dinding dengan ketinggian sekitar 40 meter dari permukaan air. Karena terletak di luar, untuk menemukan keberadaan dua lungun dapat dilakukan dengan mencari keberadaan pondok sederhana yang dibuat di atas tebing.

"Kalau yang sekarang yang tahu saja yang bisa menemukan liang itu," jelas Rusli.    

Untuk menemukannya memang tak mudah. Karena tampak kurang jelas, mengingat sudah banyak ditumbuhi tumbuhan menjalar yang menutupi liang makam. Informasi masyarakat sekitar, makam tersebut diisi masing-masing satu peti dan jasad.    

Digambarkan Rusli, peti mati berbentuk melengkung dan berwarna cokelat khas kayu ulin maupun bengkirai. Sebagaimana peti mati pada umumnya, yang membedakan hanyalah keberadaan ukiran motif Dayak. Jarak antar kedua liang lungun sekira 100 meter pada bagian atas dinding. Kedua makam ditutup sebuah pondok dari kayu berwarna cokelat dengan beratap seng. Panjang peti sekitar 200 meter atau ukuran tinggi manusia pada umumnya.      

Kepala Adat Besar Kampung Ujoh Bilang Benidiktus Bith Unyang sedikit bercerita. Kata dia, berdasarkan hukum adat dan istiadat Dayak memiliki tradisi khusus dalam hal penguburan. Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat.   

Sistem penguburan beragam, sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan. Seperti penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat, penguburan di dalam peti batu (dolmen), dan penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.    

Penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit. Namun posisi kuburan di Batu Dinding justru berada dalam posisi membelakangi matahari terbit.    

Mengenai keberadaan makam-makam kuno di tebing itu, kata Lelaki keturunan Busang, sub suku Dayak Bahau berusia 74 tahun ini, orang Dayak pada zaman dahulu mempunyai tradisi khusus dalam menguburkan keluarga mereka di tebing.  

Mereka menaiki tebing dengan cara menyambungkan batang pohon yang berfungsi sebagai tangga, sejak dari tepi sungai hingga bagian atas tebing. Usai menjalani ritual adat, kemudian peti mati diangkat secara perlahan untuk dikuburkan di sela-sela tebing.

“Biasanya hanya yang keturunan bangsawan saja yang dikuburkan di bebatuan,” kata Keke, sapaan karibnya. 


Editor : Benny Oktaryanto
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

0%78%12%0%0%0%12%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :

Komentar Facebook

komentar