google-site-verification: google21951ce8c6799507.html
PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Menjaga Terang, Menahan Rindu

Home Berita Menjaga Terang, Menahan R ...

Di tengah reruntuhan jalan dan tiang listrik yang tumbang di Kecamatan Pining, Gayo Lues, Aceh, Rayyan memilih bertahan. Bukan karena ia tak ingin pulang, melainkan karena di saat kampung halamannya sendiri dilanda bencana, ia justru berada di garis depan memulihkan kehidupan orang lain. 


Menjaga Terang, Menahan Rindu
Pengawas Lapangan dari Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Blangkejeren, Rayyan Zaraary saat sedang mengawasi proyek revitalisasi infrastruktur kelistrikan di Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Sabtu (31/1/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad

EKSPOSKALTIM - Siang itu panas dan lembap. Suara genset berdengung konstan, bercampur bunyi logam yang saling beradu. Di antara tanah berlumpur dan kabel listrik yang terkulai, Rayyan berdiri mengenakan helm proyek dan rompi berdebu.

Ia adalah petugas Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Medan berat bukan hal baru baginya. Namun kali ini, yang ia hadapi bukan sekadar jaringan listrik rusak, melainkan beban batin yang tak ringan.

Hujan deras yang turun tanpa henti selama tiga hari tiga malam telah memicu bencana di sejumlah wilayah Aceh. Sungai meluap, longsor terjadi di banyak titik, jalan terputus, listrik padam, dan komunikasi lumpuh total.

Rayyan menerima kabar bencana saat sedang bertugas. Nalurinya langsung tertuju ke rumah orang tuanya di Kuala Simpang, Aceh Tamiang—wilayah yang juga terdampak parah. Ia mencoba menghubungi keluarga, tetapi tak ada sinyal. Ponselnya hanya menampilkan layar kosong.

Hari-hari berikutnya menjadi ujian tersendiri. Di lapangan, ia harus tetap fokus: memeriksa jaringan, menegakkan tiang yang roboh, menyambung kabel putus, dan memastikan listrik bisa kembali mengalir ke rumah-rumah warga. Namun pikirannya terus melayang ke kampung halaman.

Setiap mendengar kisah warga kehilangan rumah, setiap melihat batu besar menutup badan jalan, Rayyan tak bisa menghindari bayangan tentang orang tuanya. Apakah mereka aman? Apakah rumah masih berdiri? Pertanyaan itu berputar tanpa jawaban.

Empat hari kemudian, ketika sebagian jaringan mulai pulih, ia akhirnya berhasil menghubungi keluarganya. Suara ibunya di ujung telepon menjadi penanda lega pertama. Orang tuanya selamat. Rumah masih berdiri, meski lumpur sempat masuk hingga ke ruang tamu dan dapur.

Kelegaan itu tak serta-merta mengakhiri kegelisahan. Jalan menuju Kuala Simpang masih rusak, aktivitas warga belum normal, dan pemulihan berjalan perlahan. Namun Rayyan memilih tidak pulang.

Sudah lebih dari empat bulan ia belum kembali ke rumah. Dua bulan sebelum bencana, dan dua bulan setelahnya, ia terus berada di lapangan. Kerinduan menumpuk, tetapi tanggung jawab menahannya.

Di sela tugas, Rayyan kerap menyaksikan ketahanan warga Gayo Lues. Ia melihat pedagang berjalan puluhan kilometer demi menjajakan dagangan, petani membersihkan ladang yang tertimbun lumpur, dan keluarga bertahan di rumah seadanya tanpa listrik.

Bagi Rayyan, setiap lampu yang kembali menyala bukan sekadar indikator teknis. Itu adalah tanda kehidupan mulai bergerak lagi. Anak-anak bisa belajar di malam hari, warga bisa beraktivitas, dan rasa aman perlahan kembali.

Ia sadar, keputusannya bertahan bukan pilihan mudah. Namun ia memegang satu prinsip: dalam situasi bencana, solidaritas tak mengenal jarak. Jika hari ini ia membantu orang lain bangkit, maka di tempat lain, orang tuanya pun akan mendapat pertolongan yang sama.

Targetnya jelas—listrik harus pulih sebelum Ramadan. Ia ingin memastikan masyarakat dapat menjalani ibadah dengan tenang, tanpa gelap dan tanpa ketidakpastian.

Di Gayo Lues, Rayyan hanyalah satu dari banyak pekerja di balik layar pemulihan. Namanya mungkin tak tercatat dalam laporan resmi. Namun lewat tangannya, terang kembali hadir.

Dan di antara kabel yang tersambung, tiang yang ditegakkan, serta rindu yang ditahan, Rayyan terus bekerja—menjaga cahaya untuk orang lain, sambil menunggu waktu pulang yang belum bisa ia tentukan.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :

Komentar Facebook

komentar