google-site-verification: google21951ce8c6799507.html
PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Belajar Puasa Tanpa Tekanan, Intip Panduan Usia Anak

Home Berita Belajar Puasa Tanpa Tekan ...

Belajar Puasa Tanpa Tekanan, Intip Panduan Usia Anak
ILUSTRASI Seorang anak melaksanakan salat tarawih pertama saat Ramadan. Foto: ANTARA

EKSPOSKALTIM — Ramadan kerap menjadi momen pertama anak mengenal puasa. Namun alih-alih dipaksakan sebagai kewajiban, pengenalan puasa idealnya dilakukan sebagai proses tumbuh kembang agar anak merasakan pengalaman yang aman, hangat, dan bermakna.

Psikolog klinis anak dan remaja Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H, M.Psi., menekankan bahwa puasa sebaiknya dipahami sebagai latihan perkembangan, bukan sekadar aturan agama.

“Puasa bisa dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, membangun regulasi emosi, sekaligus ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Semua ini perlu dijelaskan bertahap sesuai usia anak,” ujar Mariska dikutip dari antara, Minggu (1/2).

Puasa dan tahap perkembangan anak

Pada usia prasekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir konkret dan sangat dipengaruhi pengalaman emosional. Puasa tidak dikenalkan sebagai kewajiban penuh, melainkan latihan menunggu dan belajar sabar. Anak diajak memahami rasa lapar sebagai sensasi sementara, serta belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Nilai spiritual diperkenalkan dengan bahasa sederhana, misalnya bahwa usaha belajar berpuasa adalah perbuatan baik.

Memasuki usia sekolah awal, tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami hubungan sebab-akibat. Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala. Anak diajak memahami bahwa puasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan. Pada tahap ini, manfaat puasa bagi tubuh juga mulai diperkenalkan secara sederhana.

Sementara pada usia sekolah akhir hingga remaja awal, sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, anak sudah mampu berpikir reflektif. Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi. Anak dapat diajak melihat puasa sebagai latihan menyeluruh—mengelola lapar, emosi, pikiran, serta membangun kedekatan spiritual dan kebiasaan hidup sehat.

Peran orang tua dalam pendampingan

Mariska menyarankan orang tua mendampingi anak dengan pendekatan yang ramah dan dialogis. Orang tua dapat mengajak anak menonton film atau video edukatif tentang Ramadan, lalu mendiskusikannya dengan pertanyaan terbuka agar anak terlibat aktif.

Kegiatan keagamaan yang ramah anak, seperti dongeng Islami, kajian singkat di masjid, atau ibadah keluarga, juga dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan. Pendampingan orang tua penting agar pesan spiritual tidak terasa berat.

Selain itu, anak dapat dialihkan dari fokus rasa lapar melalui aktivitas bermakna, seperti salat bersama, membantu orang lain, berbagi, atau menyisihkan uang untuk sedekah. Dengan cara ini, anak belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan diri, tetapi mengisi waktu dengan nilai dan kebiasaan positif.

Reward bukan tujuan akhir

Terkait penggunaan hadiah atau reward, Mariska menegaskan bahwa reward dapat digunakan sebagai strategi perkembangan, terutama pada usia dini. Namun seiring bertambahnya usia, penguatan perlu bergeser ke motivasi intrinsik dan pemahaman makna puasa.

Pada anak prasekolah, reward konkret seperti stiker atau aktivitas menyenangkan masih relevan, selama diberikan atas usaha, bukan hasil semata. Pada usia sekolah awal, reward mulai dikurangi dan tidak bersifat transaksional, melainkan sebagai bentuk apresiasi atas perilaku positif.

Memasuki usia sekolah akhir dan remaja awal, reward fisik sebaiknya diminimalkan. Penguatan lebih diarahkan pada dialog, refleksi, dan rasa bangga terhadap diri sendiri. Reward, jika ada, bersifat simbolik dan berbasis pengalaman.

“Dengan pengurangan reward secara bertahap, anak belajar menemukan kepuasan batin, makna spiritual, dan manfaat puasa bagi dirinya,” kata Mariska.

Dengan pendampingan yang tepat, Ramadan dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak—bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga membangun nilai, ibadah, dan kesehatan jiwa sejak dini.

Kalau mau, saya bisa memadatkan untuk versi parenting portal, atau mempertegas angle edukasi psikologi anak biar beda dari berita Ramadan kebanyakan.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :

Komentar Facebook

komentar