BGN Kalimantan Timur membuka fakta bahwa Program Makan Bergizi Gratis belum merata.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) mengakui pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di provinsi tersebut belum merata. Itu, seiring keterbatasan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang saat ini baru mencapai 161 unit dari target 372 unit.
Pendamping Kepala Regional BGN Kaltim Sirajul Amin menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya siswa yang hingga kini belum menerima manfaat program MBG.
“Terkait belum meratanya penerimaan Makan Bergizi Gratis, kami mohon maaf apabila masih terdapat siswa yang belum menerima manfaat tersebut,” kata Sirajul di Samarinda, Sabtu (31/1) dari antara.
Ia menjelaskan percepatan pembangunan SPPG menjadi langkah strategis untuk menjawab catatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim terkait masih adanya siswa rentan, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang belum tersentuh program MBG.
Menurut Sirajul, keterbatasan jangkauan layanan saat ini tidak terlepas dari desain operasional SPPG. Setiap unit hanya melayani maksimal 3.000 porsi per hari dengan radius distribusi enam kilometer demi menjaga kualitas dan kesegaran makanan.
“Satu SPPG didesain melayani maksimal 3.000 porsi per hari dengan radius terbatas agar mutu makanan tetap terjaga,” ujarnya.
Ia menegaskan MBG tidak menerapkan pengelompokan berdasarkan latar belakang ekonomi. Setiap siswa, tanpa kecuali, memiliki hak yang sama untuk memperoleh asupan gizi berkualitas.
Hasil evaluasi internal BGN, lanjut Sirajul, menunjukkan tantangan utama berada pada pemenuhan masa komitmen 45 hari oleh calon mitra pengelola SPPG, terutama dalam aspek kesiapan administratif dan teknis.
Meski demikian, minat calon mitra di Kaltim dinilai cukup tinggi, dengan tingkat pengajuan yang telah mencapai sekitar 80 persen dari target kebutuhan unit layanan.
“Untuk wilayah terjauh seperti Mahakam Ulu, pembangunan fisik unit pelayanan sudah rampung dan saat ini memasuki tahap penilaian akhir sebelum beroperasi penuh,” katanya.
Selain berfokus pada pemenuhan gizi siswa, pembangunan SPPG juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Di Kaltim, program ini diproyeksikan menyerap hingga 18.600 tenaga kerja, dengan prioritas perekrutan warga lokal.
“Setiap unit layanan memberdayakan sekitar 50 personel, terdiri atas staf ahli BGN dan relawan dari lingkungan sekitar sekolah,” ujar Sirajul.
BGN Kaltim optimistis, dengan tercapainya target 372 SPPG, distribusi MBG dapat menjangkau seluruh siswa, termasuk anak penyandang disabilitas dan siswa berisiko putus sekolah.
“Dengan pembangunan ratusan unit layanan tersebut, kami berharap tidak ada lagi siswa yang tertinggal dari program MBG,” kata Sirajul.


