Limbah ternak yang selama ini dianggap masalah kini berubah jadi sumber energi. Di Kalimantan Timur, ratusan rumah tangga peternak mulai memasak tanpa bergantung penuh pada elpiji berkat biogas.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur mendampingi warga mengoptimalkan limbah ternak menjadi energi terbarukan melalui pemanfaatan teknologi biogas.
Sebagai bagian dari pemerataan energi, pemerintah daerah telah memfasilitasi pembangunan 575 unit reaktor biogas untuk rumah tangga peternak yang tersebar di berbagai kabupaten.
“Ini adalah komitmen kami dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga,” kata Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto dikutip media ini, Kamis (29/1) dari antara.
Program tersebut dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni ketergantungan pada energi fosil dan tingginya biaya rumah tangga akibat fluktuasi pasokan elpiji.
Manfaat langsung dirasakan Kelompok Tani Japa Maju di Desa Krayan Makmur, Kabupaten Paser. Ketua kelompok, Sukiyem, menyebut instalasi biogas mendapat sambutan hangat, terutama dari ibu-ibu rumah tangga.
“Kami jadi bisa memasak setiap hari tanpa khawatir kehabisan gas,” ujarnya. Selain memudahkan aktivitas memasak, biogas juga menjadi solusi ketika terjadi kelangkaan elpiji tiga kilogram di tingkat pengecer.
Menurut Bambang, dampak penghematan biaya langsung terasa. Jika sebelumnya satu keluarga bisa menghabiskan hingga empat tabung elpiji per bulan, kini cukup menyisakan satu tabung sebagai cadangan.
Untuk memastikan keberlanjutan ratusan unit biogas yang telah terpasang, pemerintah daerah rutin memberikan pelatihan teknis perawatan instalasi dan pengelolaan limbah ternak kepada kelompok peternak.
Kepala Desa Krayan Makmur, Akhmad, menilai teknologi biogas sangat efisien. Dengan memelihara satu ekor sapi dan perawatan yang disiplin, warga sudah mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar memasak harian.
“Seluruh kebutuhan memasak bisa dipenuhi dari gas metana yang dihasilkan di pekarangan rumah,” kata Akhmad.
Tak hanya menghasilkan energi panas, proses fermentasi limbah ternak juga menghasilkan pupuk cair organik yang dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman sawit dan sayuran.
Pupuk cair tersebut memiliki nilai ekonomi dengan harga jual sekitar Rp2.000 per liter. Tambahan pendapatan dari produk sampingan ini dapat mencapai lebih dari Rp500.000 per bulan bagi keluarga peternak.


