PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Jejak Nenek di Anyaman Ketupat, Tradisi Lebaran yang Terus Hidup di Samarinda

Home Berita Jejak Nenek Di Anyaman Ke ...

Pesanan datang bertubi-tubi dari berbagai kota, memaksa para perajin bekerja tanpa jeda demi memenuhi tradisi yang tak pernah absen di meja Idul Fitri.


Jejak Nenek di Anyaman Ketupat, Tradisi Lebaran yang Terus Hidup di Samarinda
Seorang warga Kampung Ketupat Samarinda Ramdhani menganyam ketupat pesanan pelanggan. Ketupat menjadi tradisi khas yang selalu ada dalam momentum Lebaran. (ANTARA/Ahmad Rifandi.)

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Kampung Ketupat di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur, berubah menjadi dapur raksasa menjelang Lebaran. Para perajin sibuk menganyam daun nipah sejak pagi hingga malam untuk memenuhi lonjakan permintaan.

“Permintaan ketupat melonjak setiap kali Lebaran tiba. Biasanya, dalam seminggu menjelang Lebaran, kami bisa menjual hingga 10.000 ketupat,” ujar Adelin Rahmawati, perajin generasi ketiga, dikutip Jumat (20/3).

Pesanan tidak hanya datang dari Samarinda, tetapi juga dari Balikpapan, Penajam Paser Utara, hingga Bontang, menjadikan kampung ini sebagai salah satu pemasok utama ketupat di Kalimantan Timur.

Tradisi ini telah bertahan puluhan tahun. Adelin menceritakan usaha tersebut dirintis oleh neneknya saat distribusi masih mengandalkan perahu dayung untuk menjangkau pasar-pasar tradisional. “Dulu, nenek saya yang membawa ketupat ke Pasar Pagi dan Pasar Segiri,” kenangnya.

Seiring waktu, kawasan ini ditetapkan sebagai kampung wisata oleh Pemerintah Kota Samarinda pada 2018, sekaligus mengukuhkan identitasnya sebagai sentra kerajinan ketupat.

Meski permintaan terus meningkat, proses produksi tetap dipertahankan secara tradisional. Daun nipah sebagai bahan utama didatangkan dari wilayah muara, lalu dijemur selama dua hingga tiga hari sebelum dianyam.

“Kami menjemur daun nipah selama dua hingga tiga hari, tergantung cuaca,” kata Adelin.

Di balik tingginya permintaan, tantangan bahan baku mulai terasa. Harga daun nipah mencapai Rp50.000 per ikat, dengan satu ikat hanya menghasilkan sekitar 250 hingga 300 ketupat ukuran kecil.

Perajin lain, Ramdhani, menyebut lonjakan permintaan berdampak langsung pada pendapatan warga. “Ada satu warung di sini yang omzetnya bisa mencapai Rp10 juta selama musim Lebaran,” ujarnya.

Ketupat dari kampung ini diproduksi dalam berbagai ukuran, menyesuaikan kebutuhan kuliner daerah—mulai dari ukuran kecil untuk coto Makassar dan ketupat Kandangan, hingga ukuran besar untuk soto Banjar.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :