Lonjakan permintaan selama Ramadan, Nyepi, dan Idul Fitri tetap mendorong kenaikan harga di Kalimantan Timur. Namun, laju inflasi pada Maret 2026 tertahan di angka 0,72 persen, di tengah pelaksanaan puluhan operasi pasar dan gerakan pangan murah di berbagai daerah.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Periode hari besar keagamaan nasional (HBKN) pada Maret 2026 kembali memicu peningkatan permintaan di Kalimantan Timur, terutama pada komoditas pangan dan sektor transportasi. Kondisi ini mendorong kenaikan harga, meski tidak melonjak tinggi.
Data Indeks Harga Konsumen (IHK) menunjukkan inflasi bulanan tercatat sebesar 0,72 persen (month to month), lebih tinggi dibandingkan Februari yang sebesar 0,60 persen.
Bank Indonesia (BI) Kaltim menyebut pengendalian inflasi dilakukan melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, yang dijalankan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
"Langkah pengendalian inflasi melalui strategi 4K ini pun diperkuat dengan sinergi oleh TPID Kaltim bersama kabupaten/kota," ujar Kepala Perwakilan BI Kaltim Jajang Hermawan di Samarinda, Jumat (3/4).
Sepanjang Maret, tercatat 83 kegiatan gerakan pangan murah dan operasi pasar digelar di sejumlah wilayah. Kegiatan tersebut antara lain dilaksanakan di Samarinda sebanyak 33 kali, Kutai Kartanegara 16 kali, Kutai Barat 14 kali, Bontang 8 kali, serta Mahakam Ulu dan Berau masing-masing 6 kali.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan 1,74 persen dan andil 0,52 persen. Peningkatan ini sejalan dengan tingginya permintaan selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Selain itu, kelompok transportasi mencatat inflasi 0,88 persen dengan andil 0,11 persen, dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat dan tingginya permintaan angkutan udara, termasuk penyerapan penerbangan tambahan.
Secara tahunan, inflasi Kaltim tercatat sebesar 3,31 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen. Sementara inflasi tahun berjalan berada di angka 1,37 persen.
BI Kaltim menyatakan penguatan koordinasi dan langkah pengendalian akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di tengah dinamika permintaan.


