Saat ini Kalimantan Timur baru memiliki satu cagar budaya berstatus nasional. Pada 2026, pemerintah provinsi menargetkan lonjakan signifikan dengan mengusulkan empat objek warisan daerah sekaligus untuk naik kelas.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen memperkuat pelestarian warisan daerah dengan mengusulkan empat objek cagar budaya potensial untuk ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional sepanjang tahun 2026.
“Untuk cagar budaya, tahun ini akan ada upaya serius untuk menetapkan cagar budaya ke peringkat nasional demi perlindungan yang lebih luas,” kata Pamong Budaya Disdikbud Kaltim, Lucia Dyah Prasetyarini, dikutip dari antara, Selasa (20/1).
Objek prioritas yang saat ini tengah dalam proses pemberkasan meliputi Lamin Tolan di Kutai Barat, sebuah arsitektur vernakular khas masyarakat Dayak, serta bentang alam Karst Sangkulirang–Mangkalihat di Kutai Timur yang memiliki nilai sejarah dan arkeologis bertaraf dunia.
Selain itu, dua situs bersejarah lain juga didorong naik status secara bersamaan, yakni Masjid Shirathal Mustaqiem—salah satu masjid tertua di Samarinda—serta Museum Sadurengas di Kabupaten Paser yang menyimpan jejak sejarah Kesultanan Paser.
Langkah akselerasi ini diambil mengingat hingga kini Kalimantan Timur baru memiliki satu objek cagar budaya berperingkat nasional, yakni Masjid Jami di Tenggarong, Kutai Kartanegara.
“Karena itu, kami mendorong percepatan agar objek-objek yang telah memenuhi nilai penting sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan bisa memperoleh pengakuan dan perlindungan nasional,” ujar Lucia.
Selain penetapan cagar budaya, program prioritas Bidang Kebudayaan Disdikbud Kaltim pada 2026 juga menyasar pengembangan kesenian tradisional, pemanfaatan objek pemajuan kebudayaan, serta penguatan kelembagaan budaya.
Implementasi program strategis tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan teknis, seperti penelusuran jejak sejarah dan tradisi lokal, lawatan sejarah bagi generasi muda, serta percepatan penetapan warisan budaya.
Pemerintah Provinsi Kaltim juga kembali memasifkan Gerakan Seniman Masuk Sekolah sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya tradisional sejak dini melalui jalur pendidikan formal.
“Aspek profesionalisme pelaku budaya juga menjadi perhatian kami, termasuk melalui standarisasi dan sertifikasi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta manajemen pengelolaan lembaga kesenian,” pungkas Lucia.


