google-site-verification: google21951ce8c6799507.html
PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Tegaskan Komitmen Kelangsungan Usaha, Pupuk Kaltim Uji Kesiapan Hadapi Krisis Operasional

Home Berita Tegaskan Komitmen Kelangs ...

Tegaskan Komitmen Kelangsungan Usaha, Pupuk Kaltim Uji Kesiapan Hadapi Krisis Operasional
Pupuk Kaltim uji kesiapan hadapi krisis operasional. Foto: Pupuk Kaltim

Bontang - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menggelar Drilling Test Business Continuity Management System (BCMS) berbasis SNI ISO 22301:2019 sebagai upaya memperkuat ketangguhan bisnis dari berbagai potensi ancaman. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut implementasi Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU), di mana Pupuk Kaltim telah tersertifikasi sejak 2 Februari 2024, sekaligus sarana uji kesiapan organisasi menghadapi situasi krisis berdampak tinggi.

Drilling Test mengangkat skenario aksi terorisme berupa peledakan bom di lingkungan perusahaan, yang berpotensi mengancam keselamatan insan Pupuk Kaltim, aset strategis, serta kelangsungan operasional. Melalui simulasi ini, perusahaan menguji efektivitas sistem, kejelasan peran, serta kemampuan pengambilan keputusan lintas fungsi dalam kondisi darurat yang kompleks dan dinamis.

Secara ringkas, skenario berawal dari ancaman anonim terkait keberadaan bom di kawasan pabrik. Kondisi tersebut diikuti peningkatan kewaspadaan internal, pengamanan area sensitif, serta koordinasi awal antar fungsi terkait. Situasi kemudian berkembang dengan terjadinya ledakan pada fasilitas pendukung operasional, yang berdampak pada gangguan suplai energi dan memicu aktivasi sistem proteksi proses.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan mengaktifkan mekanisme tanggap darurat, Command Center, serta melakukan asesmen dampak secara menyeluruh sebagai dasar pengambilan keputusan strategis. Berdasarkan penilaian lintas fungsi, manajemen menetapkan eskalasi kondisi darurat dan mengaktifkan Business Continuity Plan (BCP) untuk memastikan fungsi kritikal tetap berjalan, sekaligus menyiapkan langkah pemulihan yang terstruktur dan terkoordinasi.

Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Teguh Ismartono, mengatakan Drilling Test BCMS merupakan langkah strategis perusahaan dalam memperkuat budaya kesiapsiagaan dan tata kelola risiko berkelanjutan. Sebagai Objek Vital Nasional, Pupuk Kaltim tidak dapat memandang risiko secara parsial.

“Gangguan operasional yang bersumber dari faktor alam, teknologi, maupun ancaman lain seperti terorisme dan keamanan siber berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap keselamatan, reputasi, dan kelangsungan usaha,” ujar Teguh saat mengikuti Drilling Test, Jumat (23/1/2026).

Menurutnya, BCMS menjadi kerangka kerja strategis untuk memastikan perusahaan tetap mampu melindungi proses bisnis dan memenuhi tanggung jawab operasional, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun. Melalui simulasi ini, seluruh lapisan organisasi diuji pemahamannya atas peran masing-masing saat krisis, mulai dari lini operasional, fungsi pengamanan dan keselamatan, hingga manajemen puncak sebagai pengambil keputusan strategis.

“Dalam situasi krisis, kecepatan respons harus berjalan seiring dengan ketepatan keputusan. Karena itu, sistem diuji secara nyata agar koordinasi lintas fungsi terbangun untuk memastikan keselamatan dan keberlanjutan bisnis,” lanjutnya.

Teguh menegaskan keselamatan jiwa menjadi prioritas utama dalam setiap skenario darurat. Namun, perusahaan juga harus mampu mencegah gangguan berkembang menjadi krisis berkepanjangan yang berdampak pada kinerja secara menyeluruh. Selain itu, hasil simulasi menjadi bahan evaluasi untuk mengidentifikasi area yang masih perlu diperkuat.

“Tidak ada sistem yang sempurna. Namun dengan latihan konsisten, evaluasi terukur, dan komitmen perbaikan yang kuat, ketahanan perusahaan akan terus meningkat,” tambahnya.

Sementara itu, VP Manajemen Risiko Korporasi sekaligus Penanggung Jawab implementasi BCMS, Lisa Handayani, menyampaikan kegiatan ini mencerminkan upaya Pupuk Kaltim menerjemahkan standar ISO 22301:2019 ke dalam praktik nyata. Menurutnya, BCMS tidak cukup dipahami sebagai pemenuhan kepatuhan, tetapi harus diuji melalui skenario krisis yang realistis dan berdampak tinggi.

“Simulasi ini menunjukkan bagaimana BCMS bekerja secara end to end, mulai dari identifikasi ancaman, respons insiden, eskalasi krisis, hingga aktivasi rencana keberlanjutan bisnis. Keterlibatan manajemen dan koordinasi lintas fungsi menjadi kunci,” kata Lisa.

Ia menambahkan, keberhasilan BCMS tidak hanya ditentukan kualitas prosedur, tetapi juga pemahaman dan konsistensi seluruh insan organisasi dalam menjalankannya. Hasil simulasi ini akan digunakan sebagai dasar penyempurnaan analisis dampak bisnis, strategi pemulihan, serta penetapan prioritas fungsi kritikal.

“BCMS bukan sekadar pemenuhan standar, melainkan alat menjaga ketahanan dan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang. Inilah yang membedakan organisasi yang siap di atas kertas dengan organisasi yang benar-benar tangguh saat krisis terjadi,” tutup Lisa. (*)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :

Komentar Facebook

komentar