Balikpapan, EKSPOSKALTIM – Hujan deras yang mengguyur Desa Argomulyo, Kecamatan Sepaku, Senin (23/6) sore, kembali menyebabkan banjir di lingkungan RT 02. Ketua RT 02, Sumirah, menyebut genangan kali ini cukup mengkhawatirkan, meski air belum sempat masuk ke dalam rumah warga.
“Air mulai naik sekitar pukul setengah enam sore. Untungnya belum sampai masuk rumah, hanya kurang beberapa senti saja. Ketinggiannya sekitar satu meter di halaman,” ujar Sumirah saat dihubungi dari Balikpapan.
Ia mencatat intensitas banjir di wilayahnya terus meningkat sejak awal tahun. Jika sebelumnya air cepat datang dan surut, kini banjir datang perlahan namun lebih lama surut.
“Biasanya hujan sebentar saja, air langsung datang dan langsung surut. Sekarang, naiknya lambat tapi surutnya juga lama. Ini mulai terasa sejak awal tahun,” tambahnya.
Jembatan cor dituding jadi pemicu
Sumirah menduga penyebab utama banjir yang makin parah adalah pembangunan jembatan cor di atas aliran sungai kecil, termasuk oleh pihak perusahaan. Jembatan-jembatan ini dinilai mempersempit aliran air.
“Sekarang ini banyak jembatan dibangun permanen dengan cor. Contohnya di depan Balai Dusun dan rumah Pak Dusun. Sejak itu, air mengalirnya makin lambat,” ungkapnya.
Ia mengaku sudah sempat memperingatkan para pekerja perusahaan soal potensi dampaknya, namun tidak mendapat tanggapan berarti.
“Saya bilang ke mereka, kalau jembatannya sempit begini, nanti bisa berdampak ke tempat saya. Tapi mereka jawab cuma pekerja,” katanya.
Usulan normalisasi
Sumirah mengatakan warga telah beberapa kali mengusulkan normalisasi sungai dalam forum musrenbang dan kepada pemerintah desa. Namun hingga kini belum ada realisasi.
“Saya sudah usulkan normalisasi ke Pak Kades dan dalam RPJM juga saya sampaikan, tapi belum ada tindak lanjut. Padahal Mei lalu banjir sampai masuk ke dalam rumah warga, tingginya hampir selutut. Itu rumah panggung, kalau di tanah bisa lebih tinggi lagi,” jelasnya.
Tercatat ada enam bangunan terdampak, termasuk rumah warga dan satu masjid. Beberapa rumah sempat terendam hingga ke dapur saat banjir bulan lalu.
Warga berharap pemerintah desa dan kecamatan segera turun tangan. Sumirah menekankan bahwa normalisasi sungai menjadi kebutuhan paling mendesak.
“Yang paling kami butuhkan sekarang solusi cepat. Minimal normalisasi sungai, biar aliran air kembali lancar dan tidak menggenang lama seperti ini,” pungkasnya.

