Camptostemon philippinensis, salah satu mangrove langka yang dilindungi masih ditemukan tumbuh di Teluk Balikpapan. Namun ruang hidup yang sempit dan tekanan aktivitas manusia membuat keberadaannya kian rawan.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Di tepian Teluk Balikpapan, sebatang mangrove langka masih tumbuh diam-diam di antara pasang air dan akar-akar pesisir. Keberadaannya kini jadi perhatian peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Universitas Gadjah Mada, yang mendorong perlindungan lebih kuat sebelum habitatnya makin terdesak.
Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Universitas Gadjah Mada menemukan populasi Camptostemon philippinensis di kawasan pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara. Ini bukanlah mangrove biasa.
Jenis ini masuk kategori terancam punah dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature atau IUCN, sekaligus termasuk tumbuhan mangrove yang dilindungi pemerintah di Indonesia.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini, mengatakan keberadaan mangrove langka itu menegaskan pentingnya Teluk Balikpapan sebagai kawasan biodiversitas pesisir yang tak bisa dipandang sebelah mata.
“Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi,” kata Istiana dalam keterangan diterima, ditulis Senin (25/5).
Habitat mangrove tersebut disebut berada di area yang relatif sempit dan terlokalisasi. Letaknya juga cukup dekat dengan aktivitas warga di pesisir.
Karena itu, tekanan kecil sekalipun, mulai dari alih fungsi lahan mangrove, pencemaran lingkungan hingga pembalakan liar, dinilai bisa berdampak besar pada keberlangsungan populasinya.
“Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar,” ujarnya.
Yang menarik, tim peneliti juga menemukan dugaan hubungan ekologis antara mangrove langka itu dengan Bekantan, satwa endemik Kalimantan yang juga berstatus dilindungi.
Di lapangan, peneliti mendapati bekas gigitan primata pada daun mangrove tersebut. Nelayan yang mendampingi tim juga mengaku kerap melihat kelompok bekantan berada di sekitar habitat mangrove itu.
Di kawasan Teluk Balikpapan, Camptostemon philippinensis tumbuh di zona mangrove lapis kedua, yakni di atas tanah berpasir yang tergenang saat air pasang tinggi.
Di sekitarnya, mangrove itu hidup berdampingan dengan vegetasi pesisir lain seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Avicennia alba, hingga Xylocarpus granatum.
Bagi tim peneliti, menjaga satu jenis mangrove berarti menjaga lebih dari sekadar pohon.
Sebab dari akar-akar yang tumbuh di tepian Teluk Balikpapan itu, tersimpan ruang hidup satwa pesisir, penyangga ekosistem laut, sekaligus jejak biodiversitas Kalimantan Timur yang perlahan makin langka. (ant)




