Kinerja ekspor diperkirakan mengalami penurunan akibat berbagai dinamika global, terutama dari sektor batu bara.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Kalimantan Timur tetap tumbuh cukup tinggi pada 2026. Yakni pada kisaran 4,5 persen hingga 5,3 persen secara tahunan (year on year), meski kinerja ekspor diperkirakan mengalami tekanan.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kaltim Jajang Hermawan mengatakan sejumlah faktor global diperkirakan menahan laju ekspor daerah, terutama dari komoditas batu bara.
“Meski ada beberapa faktor yang menahan pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun ini, namun ada pula banyak faktor yang mendorong pertumbuhan ekonominya,” kata Jajang di Samarinda, Rabu (11/3).
Ia menjelaskan salah satu faktor penahan berasal dari sektor batu bara. Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara 2026 diperkirakan berada di kisaran 600 metrik ton (MT), lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 739,6 MT.
Selain itu, permintaan batu bara dari negara mitra dagang juga diperkirakan menurun seiring berlanjutnya transisi global menuju energi terbarukan.
Didampingi Deputi BI Kaltim Bayuadi Hardiyanto, Jajang menambahkan bahwa wacana pengenaan bea ekspor batu bara sebesar 1–5 persen juga berpotensi menahan permintaan karena dapat membuat harga batu bara asal Kalimantan menjadi kurang kompetitif di pasar internasional.
Di sisi lain, sejumlah faktor diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim pada tahun ini. Salah satunya berasal dari peningkatan kewajiban pasokan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) yang diperkirakan naik dari 25 persen menjadi 30 persen.
Sejalan dengan itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) diperkirakan mampu menyerap sekitar 140–150 juta ton batu bara pada tahun ini.
Selain sektor pertambangan, peningkatan kapasitas kilang minyak dan gas juga menjadi faktor pendorong ekonomi daerah. Kapasitas refinery migas diperkirakan bertambah sekitar 50 barel per hari dari 2025 hingga triwulan III 2026.
Pengembangan eksplorasi sumur gas sejak akhir 2025 juga diperkirakan mampu meningkatkan produksi industri produk turunan pada tahun ini.
“Faktor lainnya, pertumbuhan sektor konstruksi pada periode mendatang salah satunya akan bersumber dari rencana pembangunan sejumlah proyek besar di Ibu Kota Nusantara, di antaranya pembangunan ekosistem legislatif dan yudikatif,” ujar Jajang.
Sementara itu, Bayuadi menambahkan sektor perkebunan juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim. Ia menyebut perbaikan harga tandan buah segar (TBS) pada awal 2026 diperkirakan mampu meningkatkan produksi, didukung kondisi cuaca yang baik serta kuatnya permintaan domestik untuk program B40.
“Ekspor berbagai produk industri pengolahan kini lebih tinggi dari prakiraan, seiring kemunculan berbagai pabrik atau industri baru seperti smelter yang turut mengekspor produknya,” kata Bayuadi. (ant)


