PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Rupiah Ambruk, Stok Pertalite Tinggal Hitungan Hari

Home Berita Rupiah Ambruk, Stok Perta ...

Tekanan ekonomi domestik kian terasa setelah rupiah kembali melemah menembus Rp17.700 per dolar AS, di saat ketahanan stok Pertalite nasional dilaporkan turun di bawah batas aman pemerintah.


Rupiah Ambruk, Stok Pertalite Tinggal Hitungan Hari
Ilustrasi pengendara motor mengisi BBM subsidi di SPBU. Foto: SinPo.id

EKSPOSKALTIM, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya ketergantungan impor energi nasional. Pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026), rupiah melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.

Di saat bersamaan, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkap ketahanan stok Pertalite nasional kini hanya berada di level 16 hari, lebih rendah dibanding standar minimum pemerintah sebesar 18,2 hari.

Data tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) BPH Migas bersama Komisi XII DPR RI. Stok nasional Pertalite per 18 Mei 2026 tercatat sekitar 1,37 juta kiloliter dengan rata-rata penyaluran harian mencapai 85.560 kiloliter.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik, terutama kenaikan harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel akibat konflik Timur Tengah.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi faktor domestik dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia,” ujarnya, dikutip dari Antara, Rabu (20/5).

Menurut Rully, kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan subsidi energi pemerintah, terlebih kurs asumsi dalam APBN berada di level Rp16.500 per dolar AS.

“Dengan asumsi kurs di APBN Rp16.500 maka tambahan subsidi bisa mencapai Rp150 triliun apabila harga BBM subsidi tidak dinaikkan,” katanya.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya yield obligasi pemerintah Amerika Serikat yang membuat dolar AS semakin perkasa terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.

Selain itu, pelaku pasar juga masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.

Sementara itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM juga masih cukup tinggi. Data Kementerian ESDM menunjukkan sekitar 64,23 persen impor bensin Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026 berasal dari Singapura.

Malaysia menjadi pemasok terbesar kedua dengan porsi sekitar 27,18 persen, disusul Oman dan Uni Emirat Arab.

Dalam periode Januari hingga Februari 2026, kebutuhan bensin nasional tercatat mencapai 5,68 juta kiloliter. Dari jumlah itu, sekitar 59 persen masih dipenuhi melalui impor.

Selain Pertalite, stok nasional Solar tercatat memiliki ketahanan sekitar 16,4 hari atau hanya sedikit di atas ambang minimum 16,3 hari. Adapun stok Pertamax dan Pertamina Dex masih berada di atas standar aman pemerintah.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :