EKSPOSKALTIM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tajam pada penutupan perdagangan kemarin.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, indeks saham nasional ambles 1,51% atau terkoreksi 94 poin ke level 6.147,86.
Kejatuhan indeks didominasi oleh tekanan jual yang masif, di mana investor asing membukukan aksi jual bersih (net Foreign Sell) jumbo mencapai Rp1,13 triliun di seluruh pasar.
Sebanyak 532 saham berakhir di zona merah, sementara hanya 180 saham yang menguat. Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi pemberat indeks utama setelah dilepas masing-masing sebesar Rp241,50 miliar dan Rp121,68 miliar.
Kombinasi sentimen global dan aturan domestik baru menjadi pemicu utama koreksi dalam ini. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Analis KabarBursa.com, menjelaskan bahwa pasar saham saat ini berada di bawah tekanan eksternal yang luar biasa kuat.
"Sentimen IHSG cenderung masih bearish-to-hati-hati. Pasar ditekan oleh kombinasi suku bunga tinggi global, penyiaran harga minyak mentah dunia, serta inflasi yang persisten. Selain itu, penangkapan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang naik menjadi 5,243%—level tertinggi dalam 19 tahun terakhir—membuat aset di emerging market seperti Indonesia memicu aliran modal keluar (outflow)," ujar Nafan Aji Gusta.
Dari sisi domestik, pelemahan IHSG bertepatan dengan penerapan kebijakan baru BEI yang menghapus batas bawah harga minimum saham Rp50 menjadi Rp1.
Kebijakan ini secara langsung memicu kejatuhan tajam hingga 14% pada saham-saham eks-gocap yang selama ini tertahan di level Rp50, seperti GOTO, BBKP, dan LPKR, sehingga memperberat laju indeks.
Proyeksi Teknis dan Rekomendasi Saham
Secara teknikal, pergerakan indeks yang dinilai masih rawan mengalami pelemahan lanjutan untuk menguji area support baru. Tim Analis MNC Sekuritas dalam riset hariannya memproyeksikan pergerakan indeks untuk sesi perdagangan berikutnya.
“Downtrend pada IHSG saat ini masih didominasi oleh tekanan harga yang meningkat. IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya untuk menguji rentang area support harian di 6.088 hingga 6.111,” sebut Tim Analis MNC Sekuritas. Mereka mematok batas kuat resistance berada di level 6.297 hingga 6.419.
Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, Nara menyarankan sumber investor untuk tetap melindungi dan mencermati beberapa saham pilihan secara selektif.
Saham-saham yang direkomendasikan dengan strategi Buy on Weakness antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT), serta saham PT PTrosea Tbk (PTRO) untuk aksi Sell on Strength.

