EKSPOSKALTIM, Samarinda – Pasar keuangan dalam negeri bergerak fluktuatif cenderung menguat menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu, 23 September 2026.
Pelaku pasar dan investor global memilih defensif defensif (wait and see), yang memicu koreksi secara bersamaan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup abruk 1,69 persen atau turun 107,68 poin ke level 6.277,04. Sepanjang sesi perdagangan, indeks saham sempat mencoba menguat ke posisi tertinggi di 6.423,84 sebelum akhirnya terlempar ke zona merah akibat aksi jual masif, dengan posisi terendah menyentuh 6.258,44.
Pelemahan ini didominasi oleh rontoknya saham-saham di sektor energi yang minus hingga 2,2 persen serta utilitas yang terkoreksi 1,9 persen. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi jangkar pemberat indeks pada perdagangan pekan ini.
Rupiah Dekati Rp18.000
Nasib serupa menimpa nilai tukar rupiah. Di pasar spot, mata uang Garuda ditutup melemah 37 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp17.884 per dolar AS. Sementara itu, mengutip data kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR Bank Indonesia), rupiah berada di posisi Rp17.883 per dolar AS. Kondisi ini menempatkan posisi nilai tukar kian mepet ke level psikologis baru sebesar Rp18.000 per dolar AS.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa tekanan terhadap mata uang domestik didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal. Dari sisi global, indeks dolar AS (DXY) terus mengumumkan naik menyusul sinyal kebijakan ketat (hawkish) bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, menyiarkan harga minyak mentah dunia yang bertahan di sekitar kisaran US$100 per barel akibat pemanasannya tensi geopolitik Timur Tengah turut membantu prospek impor energi nasional.
“Investor cenderung menarik modal dari pasar berkembang (risk-off) dan mengalihkannya ke aset aman (safe haven) karena imbal hasil obligasi AS (US Treasury) tenor 10 tahun masih kokoh mendekati level 5 persen,” ujar analis pasar modal dalam keterangannya.
Konsensus Proyeksi Suku Bunga BI
Fokus utama pasar hari ini sepenuhnya diperingatkan pada rilis kebijakan moneter BI. Mayoritas ekonom dan institusi finansial memproyeksikan Bank Indonesia masih akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.
Jika prediksi ini akurat, maka ini akan menjadi kali ketiga berturut-turut BI menahan suku bunga acuan setelah keputusan serupa pada RDG Juli dan Agustus lalu. Langkah ini dinilai moderat untuk menjaga stabilitas sektor riil domestik agar tidak membebani biaya modal yang terlalu tinggi.
Namun demikian, sejumlah analis menilai BI berada dalam posisi dilematis. Jika tekanan pelemahan rupiah terus berlanjut hingga kuartal IV-2026, opsi menaikkan suku bunga acuan yang dinilai bisa menjadi benteng terakhir bagi bank sentral demi meredam pengungsi modal asing. Untuk sementara waktu, BI diprediksi akan lebih mengoptimalkan intervensi valuta asing serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Di tengah volatilitas pasar keuangan, fundamental fiskal Indonesia dinilai masih solid. Berdasarkan laporan realisasi APBN Kita Kementerian Keuangan teranyar, defisit anggaran hingga akhir Agustus terkendali di angka Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen dari PDB, dengan keseimbangan primer yang mencatatkan nilai positif. (redaksi)

