Nilai tukar rupiah melemah hingga nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS dan IHSG ambruk 2 persen pada penutupan perdagangan Selasa (29/9/2026). Tekanan pasar ini terjadi bersamaan dengan pengesahan RAPBN 2027 yang mematok target pertumbuhan ekonomi 6 persen.
EKSPOSKALTIM , Jakarta - Pasar keuangan Indonesia mendapat tekanan berat pada perdagangan Selasa (29/9/2026) kemarin.
Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.981 per dolar AS, setelah sempat menyentuh Rp18.011 per dolar AS.
Bersamaan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun sekitar 2 persen ke level 6.135.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap keseimbangan fiskal Indonesia yang mempengaruhi gejolak harga minyak dunia.
Menyanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta pasar melihat pergerakan secara jangka menengah.
"Ya ini kan namanya market. Market selalu menguat dan melemahkan. Pemerintah terus memonitor dan tentu BI juga melihat," kata Airlangga di acara HSBC Indonesia Summit 2026, Selasa.
Airlangga menambahkan, pasar modal telah memiliki mekanisme untuk merespons dinamika, termasuk mekanisme _shortselling_ saat pasar turun.
Desakan pasar ini terjadi di tengah pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 oleh DPR RI pada hari ini.
Pemerintah dan DPR menyepakati asumsi pertumbuhan makro ekonomi 6,0%, inflasi 2,5%, kurs Rp17.500 per dolar AS, dan suku bunga SBN 10 tahun 6,9%.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara hadir dalam rapat paripurna pengesahan tersebut. Pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem 0%-0,5% dan rasio gini 0,360-0,365 pada tahun 2027.
Di sisi lain, isu kehausan ikan menjadi sorotan. Kurangnya dana Transfer ke Daerah (TKD) seperti yang dialami Pemkot Bontang sebesar Rp402 miliar menjadi potret tekanan fiskal daerah yang bergantung pada kepastian transfer pusat.
Pasar juga mencermati beban cicilan APBN yang mencapai Rp804 triliun atau 23,5% dari total pendapatan negara.
HSBC memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS hingga akhir 2026.

