Bukan hanya menahan makan, tetapi juga mengendalikan ucapan, pandangan, hingga apa yang didengar.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Ulama Kalimantan Timur Kyai Haji Muhammad Ilmi mengingatkan bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga proses membentuk empati sosial dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.
"Melalui rasa lapar dan dahaga, orang yang berkecukupan dapat merasakan penderitaan mereka yang miskin, sehingga diharapkan mampu melembutkan hati untuk lebih gemar berinfak dan menolong sesama," kata Kyai Ilmi saat kuliah subuh di Masjid Darunni'mah, Selasa (3/3).
Ia menjelaskan tujuan utama puasa sebagaimana disampaikan dalam Al-Qur’an adalah membawa seorang Muslim menuju derajat takwa, sebuah capaian yang menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah SWT.
Di sisi lain, puasa juga memberi ruang bagi tubuh untuk “bernapas sejenak”. Ilmi mengibaratkan sistem pencernaan seperti mesin yang membutuhkan jeda agar tetap bekerja optimal.
Menurutnya, jeda makan di siang hari membantu menjaga kondisi organ dalam tubuh, sekaligus menjadi pengingat pentingnya pola hidup yang lebih seimbang.
"Dari sisi manajemen diri, ibadah tahunan ini secara otomatis melatih manusia untuk mematuhi aturan waktu yang telah ditentukan secara ketat saat pelaksanaan sahur dan berbuka," ujarnya.
Keteraturan ini, lanjutnya, menjadi latihan sederhana namun berdampak besar. Terutama dalam mengendalikan kebiasaan makan berlebihan yang kerap luput disadari.
Lebih jauh, puasa juga menghadirkan ruang refleksi sosial. Rasa lapar yang dirasakan menjadi jembatan untuk memahami kondisi mereka yang hidup dalam keterbatasan.
"Hikmah luar biasa lainnya dari menahan nafsu makan adalah terbangunnya jembatan kasih sayang antara mereka yang hidup berkecukupan dengan masyarakat yang sedang berada dalam kesulitan ekonomi," katanya.
Kesadaran itu kemudian mendorong semangat berbagi. Baik dalam bentuk makanan, bantuan, maupun perhatian kepada sesama.
Tak hanya itu, puasa juga menjadi latihan menjaga diri secara utuh. Bukan hanya menahan makan, tetapi juga mengendalikan ucapan, pandangan, hingga apa yang didengar.
"Perlindungan terhadap anggota tubuh tersebut juga harus mencakup pengendalian mata dan telinga dari melihat serta mendengarkan hal-hal buruk yang tidak membawa manfaat," demikian Kyai Ilmi.


