Sejarah panjang penyebaran Islam di Kalimantan Timur yang membentang sejak 1575 hingga 2025 kembali dirangkum dalam sebuah buku. Mengangkat peran ulama dan jaringan dakwah yang membentuk kehidupan masyarakat sekaligus menegaskan pentingnya merawat toleransi keberagaman.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Rentang panjang perjalanan Islam di Kalimantan Timur kini terdokumentasi dalam buku Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik.
Karya ini menelusuri jejak dakwah sejak masa kerajaan hingga era republik, dalam kurun waktu sekitar empat setengah abad.
Penulis buku sekaligus sejarawan publik Muhammad Sarip menyampaikan literatur yang merangkum sejarah Islam di Kaltim secara utuh belum diperbarui dalam tiga dekade terakhir.
“Pelajaran dari figur tokoh zaman dulu itu menghidupkan agama Islam untuk harmonisasi kehidupan masyarakat,” ujarnya di Samarinda, Jumat (4/4).
Ia menjelaskan buku tersebut disusun melalui proses diskusi dan penulisan intensif selama tiga bulan, dengan melibatkan tim ahli. Pengumpulan data juga dilakukan dari berbagai sumber, termasuk keluarga keturunan tokoh ulama.
Penyusunan naskah didukung oleh Komunitas Samarinda Bahari yang berkontribusi dalam pengumpulan fakta deskriptif terkait perjalanan dakwah di daerah tersebut.
Sarip menambahkan naskah buku akan didistribusikan ke berbagai perpustakaan daerah agar dapat diakses oleh masyarakat luas, terutama kalangan muda. Ia juga membuka ruang masukan dari pembaca untuk penyempurnaan ke depan.

Sementara itu, Abdunnur yang turut terlibat dalam penulisan menilai buku ini dapat menjadi inspirasi dalam mempersiapkan Generasi Emas 2045.
Ia menyebut ajaran Islam di Kaltim berkembang dengan mengedepankan penghormatan terhadap perbedaan sebagai tata nilai sosial kemasyarakatan.
“Interaksi ajaran agama yang berpadu dengan dinamika budaya lokal Kaltim pada akhirnya menjadi kekuatan tersendiri bagi harmonisasi kehidupan bermasyarakat hingga saat ini,” ungkapnya.
Menurutnya, nilai egaliter yang diajarkan para ulama terdahulu turut membangun kesamaan derajat manusia tanpa membedakan ras, suku, maupun latar belakang agama.
Ke depan, buku ini direncanakan menjadi bagian dari forum internasional Konsorsium Universitas Borneo pada Juli 2026, yang mempertemukan perguruan tinggi dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Melalui forum tersebut, karya ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam memahami dinamika perkembangan syiar Islam di Kalimantan secara lebih komprehensif. (Ant)


