Menjaga kesehatan ginjal selama puasa tidak cukup hanya dengan menahan makan dan minum, tetapi juga memastikan asupan cairan dan pola konsumsi tetap terjaga.
EKSPOSKALTIM - Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal-hipertensi lulusan Universitas Hasanuddin, dr. Dina Nilasari, Ph.D, Sp.PD, KGH, membagikan sejumlah kiat. Agar, fungsi ginjal tetap optimal selama menjalankan ibadah puasa.
Dina mengatakan kunci utama menjaga kesehatan ginjal saat puasa adalah memastikan tubuh tidak mengalami kekurangan cairan. “Menjaga kesehatan ginjal selama bulan puasa itu dengan minum yang cukup. Tentunya pada saat sahur dan berbuka tidak boleh kita melewatkannya,” kata Dina, dikutip media ini dari antara, Senin (2/3).
Ia menegaskan kebutuhan cairan harian tetap harus dipenuhi, yakni sekitar 2 liter atau setara dengan delapan gelas per hari, untuk menghindari risiko dehidrasi. Selain dari air putih, asupan cairan juga dapat diperoleh dari buah-buahan utuh seperti pisang maupun jus buah berserat saat berbuka. Menurutnya, jus dengan ampas membantu penyerapan gula lebih lambat dibandingkan jus tanpa serat.
“Jus usahakan jangan yang hanya air saja tapi dengan ampasnya. Karena yang hanya air saja itu juga gula, sama saja dengan kita meminum gula,” ujarnya.
Dina juga menganjurkan masyarakat membuat jus secara mandiri tanpa tambahan gula agar kandungan gizinya lebih terjaga. Ia menyebut pemanis alami seperti stevia masih dapat digunakan, namun mengingatkan untuk menghindari pemanis buatan seperti sakarin.
“Mungkin kita harus hindari itu,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar tidak mudah percaya pada klaim minuman kemasan yang disebut tanpa gula tambahan, karena belum tentu lebih sehat.
Untuk sahur, Dina menyarankan menghindari minuman berkafein seperti kopi dan teh. Kandungan kafein dapat memicu diuresis, yaitu peningkatan produksi urine yang berpotensi mempercepat kehilangan cairan tubuh.
Selain itu, ia menekankan pentingnya konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah yang kaya mineral dan serat. Makanan tinggi gula, tepung, dan gorengan sebaiknya dibatasi.
Namun, konsumsi kurma dalam jumlah wajar tetap diperbolehkan. “Tapi kalau misalnya kurma itu dimakan sampai tiga butir itu masih tidak ada masalah,” kata Dina.


