Di tengah arus Sungai Mahakam, para pembudidaya di Loa Kulu bangkit dari krisis wabah dan menjadikan ikan nila sebagai penopang ekonomi sekaligus pemasok pangan bagi kawasan Ibu Kota Nusantara.
EKSPOSKALTIM, Tenggarong - Pijakan kaki terasa bergoyang pelan di atas susunan ulin yang mengapung di Sungai Mahakam. Di bawahnya, ribuan ikan nila berebut pakan, memecah sunyi dengan kecipak air yang riuh. Di salah satu keramba itu, Muhmajadi berdiri, menjaga hidup yang ia bangun kembali dari kehancuran.
Dua dekade lalu, semuanya nyaris berakhir. Wabah Koi Herpes Virus (KHP) pada 2005 menyapu habis ikan-ikan di sepanjang keramba Loa Kulu. Modal lenyap, harapan runtuh, dan banyak pembudidaya memilih menyerah.
Namun tidak bagi Muhmajadi.
Ia dan kelompoknya memutuskan banting setir, meninggalkan ikan mas dan beralih ke nila. Komoditas ini ia nilai lebih 'tahan banting'. Keputusan itu perlahan mengubah arah hidup mereka.
Kini, dari 36 petak keramba miliknya, Muhmajadi mampu memanen hingga satu ton ikan nila setiap bulan. Dalam skala kelompok, produksi menembus lebih dari 10 ton.
Kampung Perikanan Budidaya Loa Kulu pun tumbuh menjadi ekosistem. Ada 40 kelompok pembudidaya yang bergerak dari pembibitan hingga penggemukan, menjadikan nila sebagai komoditas utama yang menyuplai kebutuhan pasar di Kalimantan Timur.
Transformasi ini tidak berhenti di kolam dan keramba. Pada 2025, Muhmajadi bersama delapan pembudidaya lain dikirim mengikuti pendidikan intensif di Sekolah Perikanan Rakyat Institut Teknologi Bandung. Mereka belajar teknik budidaya modern, mitigasi penyakit berbasis sains, hingga manajemen usaha kolektif.
Sepulangnya, ilmu itu tidak disimpan sendiri. Mereka turun langsung mendampingi kelompok lain, termasuk BUMDes Sungai Payang yang berhasil melakukan panen perdana ikan patin setelah enam bulan pendampingan.
Di tengah perubahan itu, prinsip lama tetap dijaga. Muhmajadi memilih meracik obat herbal sendiri untuk ikan, menghindari ketergantungan bahan kimia yang berisiko merusak ekosistem jangka panjang.
Momentum baru datang seiring hadirnya Ibu Kota Nusantara. Lonjakan kebutuhan pangan membuka pasar yang selama ini terasa jauh.
Dari Loa Kulu, satu ton ikan nila kini rutin dikirim setiap bulan ke kawasan Sepaku, wilayah yang bersinggungan langsung dengan pusat pemerintahan IKN. Potensi pasar bahkan diproyeksikan mencapai 12 ton per bulan.
Di balik angka-angka itu, ada peran yang lebih besar. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim menyebut Loa Kulu sebagai salah satu penopang ketahanan pangan daerah, dengan kontribusi signifikan terhadap produksi perikanan budidaya.
Namun jalan ke depan tidak sepenuhnya mulus. Harga pakan yang fluktuatif dan perubahan iklim yang memengaruhi kualitas air tetap menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan usaha.
Di atas keramba yang terus bergoyang mengikuti arus Mahakam, Muhmajadi dan ratusan pembudidaya lain tetap bertahan. Bagi mereka, merawat ikan bukan sekadar pekerjaan.
Ia adalah cara menjaga dapur tetap menyala, dan kini, ikut memberi makan sebuah ibu kota baru. (Ant)


