PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Melihat Sisa Kejayaan Rumah Kayu Banjar di Kota Seribu Sungai

Home Berita Melihat Sisa Kejayaan Rum ...

Melihat Sisa Kejayaan Rumah Kayu Banjar di Kota Seribu Sungai
Rumah dan makam Syekh Jamaluddin atau Datu Surgi Mufti wafat pada 8 Muharam 1348 H atau 16 Juni 1929 M ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah pusat. Foto: ANTARA

Banjarmasin, EKSPOSKALTIM – Di Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara, berdiri kawasan Sungai Jingah yang sejak lama dikenal sebagai tempat para saudagar Banjar bermukim. Pada abad ke-19, deretan rumah kayu khas Banjar yang megah menghiasi tepian sungai. Pemiliknya adalah pedagang kaya yang bergerak di usaha tembakau, bawang, tikar purun, hingga perkapalan.

Berbagai tipe rumah Banjar masih bisa ditemui di sana, mulai dari Bubungan Tinggi, Gajah Baliku, Palimbangan, Gajah Manyusu, Tadah Alas, Balai Laki, Balai Bini, Cacak Burung (Anjung Surung), Lanting, Joglo Gudang, hingga Bangun Gudang.

Salah satu yang masih lestari adalah Rumah Bangun Gudang milik H A Gani Kamar, dibangun pada 1925. Bangunan berbentuk empat persegi panjang dengan atap limas ini tak hanya menjadi hunian, tapi juga tempat menyimpan barang dagangan. Nuansa Arab terasa dari ornamen kaligrafi, pintu dan jendela berlapis dua yang memberi kesan unik.

Ada pula Rumah Balai Laki milik H Saad yang berdiri pada 1928. Rumah berbentuk persegi panjang dengan atap menyerupai pelana kuda itu memiliki pelataran luas, pagar kayu berukir, serta pintu dan jendela tinggi berlapis dua. Aura masa lalu masih kental menyelimuti bangunannya.

Menurut tokoh setempat, Zaini (70), kini sekitar 22 rumah Banjar masih bertahan, meski sebagian sudah rusak. Mayoritas berupa rumah Bubungan Tinggi dengan atap menjulang, memanjang ke depan, dan menghadap sungai. Di tengah gempuran rumah beton modern, bangunan kayu itu masih menyimpan jejak kemewahan masa lalu.

Kokoh di Tengah Perubahan

Salah satu yang tetap berdiri kokoh adalah rumah milik Fathurrahman (73). "Saya lahir di rumah ini. Semua saudara saya juga lahir di sini," ucapnya. Rumah itu dulunya milik ayahnya, seorang kadi sekaligus tokoh agama sebelum kemerdekaan. Bahkan jauh sebelumnya, bangunan itu dimiliki saudagar permata yang berdagang hingga mancanegara.

Rumah tersebut memiliki pintu kayu ulin setinggi dua setengah meter dengan ukiran halus, jendela empat daun yang bisa dibuka separuh, pagar kayu ulin setinggi satu meter, serta lantai dari papan tebal. Tangga menuju pelataran pun berbahan kayu ulin. Meski dapur sudah lapuk, kerangka utamanya masih berdiri. Pondasi rumah lebih dari dua meter, menyesuaikan kondisi Banjarmasin yang rawan tergenang air.

Jejak Religi dan Cagar Budaya

Salah satu rumah Banjar di Sungai Jingah bahkan ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Di dalamnya terdapat makam ulama besar, Syekh Jamaluddin atau Datu Surgi Mufti, mufti kerajaan Banjar pada masa kolonial Belanda sekaligus cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Datu Surgi Mufti wafat pada 6 Juni 1929.

Bangunan tersebut kini menjadi pusat wisata religi dan sejak 2011 ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII.

Pemerintah Kota Banjarmasin juga memasukkan Sungai Jingah sebagai kawasan berbasis kekayaan intelektual, yang berpotensi dikembangkan menjadi kota tua, kampung bahari, kota pusaka, atau desa wisata. Dari 36 destinasi wisata di Banjarmasin, kawasan ini menempati posisi istimewa.

Potensi ekonomi terbuka jika pengelolaan dilakukan profesional. Beberapa rumah bisa difungsikan sebagai rumah makan khas Banjar, toko suvenir, museum budaya, atau studio foto pakaian adat. Bahkan, jika dikembangkan sebagai penginapan bergaya tempo dulu, kawasan ini bisa menjadi magnet baru wisatawan.


Editor : Maulana
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :