PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Karhutla Picu Orangutan Keluar Hutan, Konflik dengan Warga Kian Berulang

Home Berita Karhutla Picu Orangutan K ...

Karhutla yang terus berulang di Kalimantan tak hanya menghanguskan hutan, tetapi juga memaksa orangutan keluar dari habitatnya. 


Karhutla Picu Orangutan Keluar Hutan, Konflik dengan Warga Kian Berulang
Tim gabungan BKSDA Kalbar bersama YIARI,PT Mohairson Pawan Khatulistiwa dan masyarakat evakuasi orangutan Jantan 'Wak' di perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalbar ANTARA/HO-BKSDA Kalbar

EKSPOSKALTIM, Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di Pulau Kalimantan dinilai menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya konflik antara orangutan dan masyarakat. Rusaknya habitat membuat satwa liar kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung sehingga terdorong masuk ke kebun maupun permukiman warga.

Ketua Umum Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Silverius Oscar Unggul, mengatakan pembukaan lahan dengan cara membakar yang tidak terkendali mempercepat kerusakan habitat orangutan dan memperbesar risiko konflik di lapangan.

"Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga," kata Silverius, Sabtu (8/8).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat masyarakat dan orangutan sama-sama menjadi korban. Warga mengalami kerugian akibat tanaman yang rusak dan meningkatnya kekhawatiran terhadap keberadaan satwa liar, sementara orangutan kehilangan ruang hidup yang semakin menyempit.

Silverius menilai dampak karhutla kini tidak lagi bisa dipandang semata sebagai persoalan lingkungan. Selain memicu konflik satwa dan manusia, kebakaran juga menimbulkan beban besar bagi negara melalui biaya pemadaman, penanganan konflik satwa, translokasi, hingga pemulihan habitat.

"Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita," ujarnya.

Catatan YIARI menunjukkan konflik serupa telah berulang selama bertahun-tahun. Di kawasan Desa Kuala Tolak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama YIARI pernah menyelamatkan sejumlah orangutan saat kebakaran besar melanda wilayah tersebut pada 2015 dan 2019.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada 2026 ketika seekor orangutan jantan yang kemudian diberi nama "Wak" ditemukan berada di area perkebunan buah milik warga. Kehadiran satwa tersebut memicu kekhawatiran karena berpotensi merusak tanaman, sementara kebakaran yang meluas di sekitar desa meningkatkan risiko bagi keselamatan satwa maupun masyarakat.

Warga Desa Kuala Tolak, Morsali, mengatakan konflik antara manusia dan orangutan semakin sering terjadi seiring masifnya pembukaan lahan dan meningkatnya kejadian karhutla.

"Orangutan keluar ini juga karena habitatnya terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi sekarang musim kemarau dan api banyak. Jadi dia mencari tempat yang aman untuk makan dan berlindung," katanya.

Untuk mencegah konflik lebih lanjut, BKSDA Kalbar bersama YIARI kemudian mengevakuasi orangutan tersebut dan melepasliarkannya kembali ke kawasan hutan yang dinilai aman.

Orangutan itu dilepasliarkan di areal konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) yang memiliki bentang hutan gambut seluas sekitar 36.972 hektare dan masih dihuni populasi orangutan liar.

General Manager PT Mopakha, Wendi Tamariska, mengatakan lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis karena memiliki tutupan hutan yang baik serta ketersediaan sumber pakan yang cukup untuk mendukung adaptasi satwa di habitat alaminya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan penanganan konflik satwa liar tidak dapat dipisahkan dari upaya pengendalian karhutla dan perlindungan habitat.

"Translokasi bukan sekadar memindahkan satwa, tetapi bagian dari mitigasi agar keselamatan masyarakat dan orangutan sama-sama terjaga. Penyelesaian konflik manusia dan satwa liar harus dibarengi pengendalian karhutla, perlindungan habitat, serta penegakan hukum terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar," ujarnya. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :