PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Perjuangan Panjang Rehabilitasi Amesh, Denin, Chaterine: Kembali Bebas di Bentang Alam Kutai Timur

Home Berita Perjuangan Panjang Rehabi ...

Usai bertahun-tahun jalani sekolah hutan, Amesh, Denin, dan Chaterine akhirnya kembali beratap langit Kehje Sewen, meski rencana rilis 4 orangutan mendadak sempat tertunda. 


Perjuangan Panjang Rehabilitasi Amesh, Denin, Chaterine: Kembali Bebas di Bentang Alam Kutai Timur
Proses pelepasan tiga individu orangutan di Yayasan BOS Samboja Lestari, Kamis (5/11/2026). (Eksposkaltim/Erik)

EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Tiga individu orangutan hasil rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Samboja Lestari akhirnya kembali ke habitat alaminya di Hutan Kehje Sewen, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Kamis (5/11/2026).

Ketiga orangutan tersebut adalah Denin, orangutan jantan berusia 11 tahun; Chaterine, orangutan betina berumur 11 tahun; dan Amesh, orangutan jantan berusia 11 tahun. Ketiganya dinilai telah memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup di alam setelah menjalani proses rehabilitasi di Samboja Lestari.

Manager Regional BOSF Kaltim Aldrianto Priadjati mengatakan ketiga orangutan tersebut sebelumnya disiapkan bersama satu individu lain bernama Marlon untuk dilepasliarkan pada Kamis.

Namun, pelepasan Marlon harus ditunda setelah orangutan tersebut mendadak mengalami diare.

"Sejatinya ada empat individu yang akan kami lepas hari ini. Namun, satu individu, Marlon, mengalami diare sehingga pelepasliarannya harus ditunda," kata Aldrianto. 

Menurut Aldrianto, pelepasliaran tiga orangutan tersebut menjadi yang ke-27 dilakukan BOSF Samboja Lestari. Sebanyak 153 orangutan telah lebih dahulu dilepasliarkan dan berada di kawasan Kehje Sewen. 

Pelepasliaran, kata Aldrianto, bukan menjadi akhir dari proses rehabilitasi. Ketiga orangutan akan tetap dipantau untuk memastikan mereka mampu beradaptasi dan bertahan hidup di habitat alaminya.

Pada tahap awal, pemantauan dilakukan secara intensif setiap hari selama sekitar tiga hingga enam bulan. Setelah itu, intensitas pemantauan akan dikurangi seiring kemampuan orangutan beradaptasi dengan lingkungan hutan.

"Individu yang dilepas merupakan orangutan yang kami nilai memiliki kemampuan utama untuk bertahan hidup, mulai dari membuat sarang, mencari makanan, hingga memanjat," ujar Aldrianto.

Saat ini, sekitar 110 individu orangutan masih berada di fasilitas BOSF Samboja Lestari untuk menjalani proses rehabilitasi.

Kisah Amesh, Belajar Bertahan Setelah Terpisah dari Induk

Salah satu orangutan yang dilepasliarkan adalah Amesh. Ia diselamatkan pada 24 September 2016 ketika diperkirakan berusia 1-2 tahun.

Tim Yayasan BOS bersama Balai Taman Nasional Kutai mengevakuasi Amesh dari rumah seorang warga di Sangatta Selatan, Kalimantan Timur.

Menurut penuturan pemeliharanya, Amesh ditemukan setelah kebakaran hutan pada 2015. Induknya disebut panik ketika berada di pohon yang terbakar dan meninggalkan anaknya.

Warga sempat mencoba mengembalikan Amesh kepada induknya beberapa kali, tetapi upaya tersebut tidak berhasil. Amesh kemudian dibawa pulang dan dipelihara di rumah warga.

Saat pertama tiba di Samboja Lestari, Amesh dikenal sebagai bayi orangutan yang pendiam dan penurut serta kerap mencari perhatian dan susu dari pengasuhnya.

Selama menjalani Sekolah Hutan Level 1, Amesh menunjukkan kemampuan belajar yang baik. Meski sesekali masih bergantung kepada pengasuh, ia terus mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di alam.

Perkembangan itu terlihat ketika Amesh dipindahkan ke Pulau 7. Awalnya, ia lebih sering menyendiri dan beraktivitas di tanah karena belum terbiasa berinteraksi dengan orangutan lain.

Seiring waktu, Amesh mulai lebih sering memanjat, menyusun dahan untuk membuat sarang, dan mencari pakan alami.

Denin dan Chaterine Juga Punya Riwayat Penyelamatan

Denin diselamatkan BKSDA Samarinda pada 14 September 2018 ketika diperkirakan berusia 2-3 tahun. Ia ditemukan warga di area perkebunan di Bengalon dalam kondisi terpisah dari induknya.

Selama sekitar tiga minggu, Denin hanya diberi pisang dan air putih serta ditempatkan di sebuah rumah kosong di atas ranjang tanpa kasur.

Ketika tim medis dan pengasuh Yayasan BOS menjemputnya, Denin memeluk pengasuhnya dengan erat. Setelah menjalani rehabilitasi, Denin menunjukkan kemampuan mencari pakan alami dan membangun sarang.

Sementara itu, Chaterine tiba di Samboja Lestari pada 29 Juni 2019 ketika berusia sekitar empat tahun. Ia diselamatkan BKSDA Tenggarong dari seorang warga di Muara Badak.

Saat dipelihara, Chaterine ditempatkan di kandang sempit dan hanya diberi makan nasi. Ia juga tidak terbiasa mengonsumsi buah-buahan.

Setelah diselamatkan, Chaterine menunjukkan perilaku defensif, termasuk mencoba menggigit ketika didekati. Kondisi rambutnya yang jarang juga menjadi salah satu tanda bahwa ia membutuhkan perawatan lebih lanjut.

Chaterine kemudian pernah mengalami air sacculitis, yakni peradangan pada kantung udara dalam sistem pernapasan, sehingga harus menjalani perawatan medis intensif di Baby Nursery. Pada September 2023, ia juga menjalani prosedur reflush sebagai bagian dari penanganannya.

Setelah menjalani proses rehabilitasi, Chaterine menunjukkan kemampuan membangun sarang di bagian atas pohon dan memanfaatkan pakan alami yang tersedia di sekitarnya.

Lokasi Pelepasliaran Dipastikan Aman dari Karhutla

Pelepasliaran tiga orangutan kali ini juga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi ancaman di Kalimantan Timur.

Aldrianto mengatakan BOSF telah melakukan pemantauan terhadap kondisi Hutan Kehje Sewen sebelum pelepasliaran. Berdasarkan pemantauan tersebut, lokasi dinilai cukup aman dari dampak karhutla.

CEO BOS Foundation Jamartin Sihite mengatakan kondisi kawasan juga terus dievaluasi untuk memastikan keamanan orangutan yang dilepasliarkan.

"Kami memastikan hutan ini aman dari karhutla. Di lapangan sudah siap jika ada insiden. Kami sudah pantau citra satelit, cukup aman dari karhutla, dan kami berani lepaskan. Kalau tidak aman, kami tidak akan berani," kata Jamartin.

Menurut dia, kondisi Kehje Sewen tetap akan dievaluasi secara berkala, termasuk untuk memastikan habitat tersebut mampu mendukung keberlangsungan orangutan yang telah dilepasliarkan.

Proses pelepasliaran dilakukan dengan perjalanan darat selama sekitar delapan hingga sembilan jam sebelum dilanjutkan menggunakan perahu menuju lokasi di dalam kawasan hutan.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Kaltim Bambang Hari Trimarsito mengatakan, pelepasliaran merupakan tahapan lanjutan dari proses penyelamatan dan rehabilitasi orangutan.

Menurut dia, setelah dievakuasi dan direhabilitasi, orangutan harus mendapatkan kesempatan untuk kembali hidup di habitat alaminya.

"Pelepasliaran bukan akhir. Ada pekerjaan memantau keberlangsungan tiga individu," kata Bambang.

Konservasi orangutan tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Upaya tersebut membutuhkan kerja sama antara pemerintah, lembaga konservasi, dan pihak lain yang terlibat dalam penyelamatan serta rehabilitasi orangutan.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :