Maraknya kasus rekayasa kehamilan yang dipicu oleh tuntutan sosial menjadi pengingat penting akan besarnya beban emosional yang ditanggung perempuan.
EKSPOSKALTIM, Bontang – Pertanyaan berulang soal kapan hamil dan stigma “mandul” dapat menjadi beban psikologis bagi perempuan yang belum memiliki keturunan.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Pakhruzzabadi, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melontarkan komentar tentang kehamilan karena persoalan kesuburan tidak selalu berasal dari pihak perempuan.
Peringatan itu disampaikan Dokter Badi, sapaan akrab Pakhruzzabadi, setelah membaca kabar viral mengenai dugaan jasad bayi yang disebut tertukar dengan bantal di salah satu rumah sakit di Bontang.
Ia tidak ingin berspekulasi mengenai kasus yang masih menjadi perhatian tersebut. Namun, menurutnya, fenomena itu menjadi pengingat bahwa tekanan psikologis terkait kehamilan dan tuntutan memiliki anak perlu mendapat perhatian.
“Terlepas dari kasus itu, wallahualam apa modusnya atau bagaimana kejadian yang sebenarnya. Saya ingin berkomentar sedikit karena beberapa kali mendapat kasus orang yang ingin mengaku hamil dengan modus tertentu,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).
Dokter Badi menceritakan salah satu pasien pernah datang ke tempat praktiknya untuk meminta surat keterangan hamil. Pasien tersebut mengaku mengalami keterlambatan menstruasi. Namun, hasil pemeriksaan dan ultrasonografi (USG) menunjukkan dirinya tidak hamil.
"Ternyata pasien itu menginginkan surat keterangan kehamilan untuk menghindari perceraian," ungkapnya.
Pasien itu berharap status kehamilan dapat membuat suaminya membatalkan niat untuk berpisah.
Kasus serupa juga pernah ditemui Dokter Badi saat menangani pasien yang sedang menjalani program kehamilan. Pasien tersebut telah berulang kali mengalami keguguran, tetapi tidak didukung bukti pemeriksaan USG.
Menurut Dokter Badi, pengalaman itu menunjukkan bahwa persoalan kehamilan dapat berkaitan dengan tekanan psikologis yang dialami seseorang.
Ia menyoroti pertanyaan berulang dari orang tua, mertua, maupun teman mengenai kapan seorang perempuan akan hamil. Pertanyaan yang mungkin dianggap biasa oleh sebagian orang itu, menurutnya, dapat membuat seseorang merasa tertekan.
“Kadang-kadang orang tua atau mertua, entah itu teman yang bertanya, ‘Kok kamu enggak hamil-hamil?’ Itu bisa membuat seseorang tertekan secara psikologis,” jelasnya.
Dalam kondisi tertentu, keinginan untuk mendapat pengakuan sosial sebagai perempuan yang pernah hamil juga dapat menjadi beban tersendiri.
Kesuburan Bukan Hanya Persoalan Perempuan
Dokter Badi mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif kepada perempuan yang belum hamil atau belum memiliki keturunan. Sebab, kondisi tersebut tak selalu disebabkan oleh masalah kesuburan pada perempuan.
Faktor ketidaksuburan bisa berasal dari pihak laki-laki, perempuan, maupun kombinasi keduanya. Bahkan, ada pasangan yang belum dikaruniai anak selama menikah, tetapi masing-masing kemudian memiliki keturunan setelah berpisah.
Karena itu, ia menilai istilah “mandul” sebaiknya tidak digunakan secara sembarangan untuk melabeli perempuan yang belum hamil.
“Banyak yang sebenarnya normal-normal saja, tetapi memang belum dikasih rezeki. Karena kehamilan itu hak prerogatif Tuhan,” katanya.
Selain tekanan sosial, Dokter Badi menjelaskan kondisi yang dikenal sebagai pseudopregnancy atau kehamilan palsu. Kondisi ini dapat membuat seseorang mengalami gejala yang menyerupai kehamilan meskipun pemeriksaan medis tidak menemukan adanya kehamilan.
Gejala yang dapat muncul antara lain perut membesar, perubahan bentuk tubuh, mual, muntah, hingga payudara terasa tegang. Keluhan tersebut dapat dirasakan secara fisik maupun emosional oleh orang yang mengalaminya.
Namun, kepastian mengenai kehamilan tetap harus didasarkan pada pemeriksaan medis, bukan semata-mata dari gejala yang dirasakan atau perubahan fisik yang terlihat.
Dokter Badi mengajak masyarakat lebih berhati-hati dalam melontarkan komentar mengenai kehamilan dan keturunan.
Ia berharap pasangan yang sedang menghadapi persoalan kesuburan tidak semakin terbebani secara psikologis akibat tekanan dari lingkungan sekitar.
"Mari masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam melontarkan komentar mengenai kehamilan dan keturunan. Biar pasangan yang sedang menghadapi persoalan kesuburan tidak semakin terbebani secara psikologis," tutupnya.



