Investigasi Dinkes Bontang menemukan bakteri patogen pada dua menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat memicu puluhan siswa, guru, dan wali murid mengalami gangguan kesehatan.
EKSPOSKALTIM, Bontang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang menemukan bakteri patogen dalam sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 2, Kelurahan Api-Api.
Temuan itu merupakan hasil investigasi yang dilakukan setelah muncul laporan gangguan kesehatan pada sejumlah penerima manfaat MBG awal Agustus lalu.
Kepala Dinkes Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan laporan kejadian sakit akibat pangan diterima pihaknya pada 5 Agustus 2026 dari Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Bontang.
Sehari kemudian, Dinkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan lapangan.
Dari hasil investigasi, tercatat 27 orang mengalami keluhan kesehatan yang terdiri dari 14 siswa, 11 guru, dan dua wali murid dari sekitar 2.036 penerima manfaat.
“Hasil pemeriksaan memang menunjukkan adanya bakteri patogen di ayam serundeng dan gulai sayur,” kata Toetoek.
Meski demikian, Dinkes belum menetapkan sumber pasti kontaminasi. Sejumlah tahapan dalam proses penyediaan makanan masih dievaluasi untuk mengetahui titik risiko yang paling memungkinkan menjadi penyebab.
Menurut Toetoek, salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah higiene penjamah makanan saat proses penanganan dan pemorsian makanan ke dalam wadah distribusi.
Selain itu, proses pendinginan makanan setelah dimasak juga turut diperiksa, termasuk penggunaan alat bantu seperti kipas angin yang kebersihannya perlu dipastikan.
“Proses pendinginan makanan setelah dimasak juga menjadi salah satu titik yang diperiksa,” ujarnya.
Dinkes juga menyoroti penggunaan bahan pengganti dalam proses pengolahan makanan, salah satunya kemiri yang digunakan sebagai pengganti santan.
Lihat postingan ini di Instagram
Kepala SPPG Bontang Utara 2 Muhammad Rezky mengakui pada menu yang dibagikan saat kejadian terdapat perubahan bahan masakan tersebut.
Menurutnya, menu serupa sebelumnya sudah beberapa kali disajikan kepada sekitar 2.497 penerima manfaat tanpa menimbulkan keluhan kesehatan.
“Tapi memang, di salah satu menunya diganti dari santan menjadi kemiri. Jadi kemungkinan disebabkan kemiri yang digunakan sebanyak 10 kilogram,” ujarnya.
Namun Dinkes menegaskan penggunaan bahan pengganti belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama. Aspek keamanan pangan, termasuk potensi alergi maupun kesalahan proses pengolahan, masih menjadi bagian dari evaluasi yang berlangsung.
Selain itu, penanganan buah dan bahan pangan lainnya juga menjadi perhatian karena berpotensi menyebabkan kontaminasi silang apabila tidak dicuci dan ditangani secara terpisah.
“Kalau tidak dicuci dan ditangani secara terpisah, dapat meningkatkan risiko terjadinya kontaminasi silang,” kata Toetoek.
Rezky menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh penerima manfaat atas kejadian tersebut. Meski operasional dapur masih dihentikan sementara, pihaknya berkomitmen melakukan perbaikan sebelum layanan kembali berjalan.
“Saya pastikan setelah ini tidak ada lagi kejadian seperti ini dan akan lebih memperhatikan bahan dan proses pengemasan,” tegasnya.
Berdasarkan pemantauan hingga 7 Agustus 2026, seluruh penerima manfaat yang mengalami keluhan telah dinyatakan pulih atau dalam kondisi stabil. Dinkes juga tidak menemukan adanya penambahan kasus baru.
Saat ini, Dinkes bersama puskesmas masih melakukan pemantauan kesehatan penerima manfaat sekaligus mengevaluasi seluruh tahapan penyediaan makanan di dapur SPPG.
Toetoek menambahkan pengawasan rutin tetap dilakukan melalui Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yang dilaksanakan sedikitnya satu kali setiap bulan.
“Dinas Kesehatan turun satu kali dalam satu bulan, namanya IKL, inspeksi kesehatan lingkungan guna melihat dan memberikan pembinaan,” pungkasnya.



