EKSPOSKALTIM.COM, SAMARINDA — Baru-baru ini Wali Kota Samarinda, Andi Harun, memberikan sambutan dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar di Hotel Fugo Samarinda, Sabtu (8/8). Di hadapan jajaran pengurus partai, ia menyinggung praktik politik uang dan menegaskan tingginya standar kepemimpinannya.
Dalam pidatonya, Andi Harun mengklaim bahwa selama dua periode kepemimpinannya, ia sengaja menaikkan tolok ukur politik di ibu kota Kalimantan Timur (Kaltim) tersebut. Langkah ini, menurutnya, menjadi alasan utama terciptanya skenario calon tunggal pada kontestasi politik sebelumnya.
"Selama dua periode kepemimpinan saya ini memang saya meninggikan standar Pemilihan Samarinda. Kalau enggak saya tinggikan, enggak mungkin kemarin calon tunggal," kata Andi Harun.
Menjelang kontestasi mendatang, Andi Harun menyinggung potensi hadirnya kandidat yang mengandalkan kekuatan finansial. Berani mengambil sumpah, ia mengklaim sama sekali tidak menyentuh praktik money politic demi menjaga integritas demokrasi.
“Dan alhamdulillah, Rp1 pun demi Allah demi Rasul, kalau saya main politik enggak selamat saya dunia akhirat kalau ada Rp1 pun saya main money politic,” ungkapnya.
Ia juga menekankan keterlibatannya secara tegas untuk membendung kepala daerah yang berpotensi menjadi koruptor akibat beban biaya politik yang membengkak.
"Dan saya akan dukung calon yang tidak main uang, karena calon yang main uang itu biaya demokrasinya sangat tinggi. Bohong dia. Kalau nanti berkuasa jadi maling, hanya akan memikirkan bagaimana uangnya kembali,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Andi Harun turut mengukir klaim sejarah atas keberhasilannya mengamankan perahu politik tanpa biaya mahar sepeser pun. Ia menyentil keraguan publik di tingkat daerah sembari mengungkapkan manuver diplomasi tingkat tingginya langsung ke DPP Partai Golkar.
"Terima kasih juga Pak Sekjen, saya tidak membayar serupiah pun di Partai Golkar," ungkapnya.
Membedah dinamika politik lokal yang kerap dipenuhi spekulasi, ia membagikan strateginya dalam menembus barikade komunikasi politik daerah:
"Politik itu enggak boleh banyak bunyi… Bolehlah di daerah bersilat, tapi kan ada juga jalan-jalan tikus yang boleh kita tempuh," pungkas Andi Harun.

