Memasuki hari kedua operasi pencarian, korban belum ditemukan meski kapal yang digunakannya telah ditemukan dalam kondisi setengah tenggelam.
EKSPOSKALTIM, Tenggarong - Tim Search and Rescue (SAR) gabungan masih melanjutkan pencarian terhadap Hasriarto (37), nelayan asal Desa Muara Badak Ulu, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang dilaporkan hilang saat memancing di Perairan Muara Berau.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kelas A Balikpapan, Endrow Sasmita, mengatakan hingga Sabtu (18/7/2026) korban belum ditemukan meski operasi pencarian telah memasuki hari kedua.
"Dari informasi yang kami himpun, korban berangkat seorang diri untuk memancing pada Rabu (15/7) sekitar pukul 16.30 WITA di Perairan Muara Berau. Namun hingga keesokan harinya korban belum kembali," ujar Endrow.
Kekhawatiran keluarga dan warga mulai muncul setelah korban tidak kunjung pulang. Pada Kamis (16/7) sekitar pukul 08.00 WITA, warga bersama nelayan setempat menemukan kapal milik korban dalam kondisi setengah tenggelam di perairan tersebut.
Temuan itu kemudian dilaporkan kepada aparat desa dan diteruskan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Balikpapan.
Laporan resmi mengenai kejadian tersebut diterima Basarnas pada Jumat (17/7) sekitar pukul 11.00 WITA dari Aco Ferdiansyah yang merupakan keluarga korban. Menindaklanjuti laporan itu, Tim Rescue Pos SAR Sangatta segera berkoordinasi dengan pihak terkait sebelum diberangkatkan menuju lokasi pencarian pada pukul 11.20 WITA.
Endrow menjelaskan lokasi pencarian berada sekitar 51 nautical mile (NM) atau mil laut ke arah selatan dari Pos SAR Sangatta sehingga membutuhkan waktu tempuh sekitar tiga jam perjalanan.
Gelombang Tinggi Jadi Kendala
Pencarian yang dilakukan pada hari pertama belum membuahkan hasil. Karena itu, operasi kembali dilanjutkan pada Sabtu dengan memperluas area penyisiran di sekitar lokasi penemuan kapal.
Dalam operasi tersebut, Basarnas mengerahkan berbagai peralatan pendukung, mulai dari rescue car, rigid inflatable boat (RIB), peralatan SAR air, perlengkapan selam, perangkat komunikasi hingga perlengkapan medis.
Operasi juga melibatkan sejumlah unsur gabungan, antara lain Tim Rescue Pos SAR Sangatta, TNI Angkatan Laut, Polairud Polda Kalimantan Timur, serta keluarga korban.
Menurut Endrow, kondisi gelombang yang cukup tinggi menjadi tantangan utama dalam proses pencarian, meski cuaca di lokasi operasi terpantau cerah.
"Operasi SAR ini melibatkan unsur gabungan yang terdiri dari Tim Rescue Pos SAR Sangatta, TNI AL, Polairud Polda Kalimantan Timur, serta keluarga korban," katanya.
Meski menghadapi kendala di lapangan, tim SAR memastikan upaya pencarian akan terus dioptimalkan.
"Kami bersama seluruh unsur SAR gabungan akan terus mengoptimalkan upaya pencarian hingga korban ditemukan dengan tetap mengutamakan keselamatan personel di lapangan," pungkas Endrow.



