PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Nelayan Rengge Balikpapan Terjepit: Sudah Gelombang Tinggi, Solar Sulit

Home Berita Nelayan Rengge Balikpapan ...

Nelayan tradisional di pesisir Manggar Baru, Balikpapan Timur, sedang menghadapi tekanan berlapis


Nelayan Rengge Balikpapan Terjepit: Sudah Gelombang Tinggi, Solar Sulit
Sejumlah kapal milik nelayan rengge di RT 32, Kelurahan Manggar Baru Balikpapan Timur berjejar di tepi Sungai Manggar, Jumat (17/7/2026) sore. Nelayan mengeluhkan sulitnya mendapat jatah solar subsidi. Foto: Eksposkaltim/Erik

EKSPOSKALTIM, Balikpapan — Kehidupan nelayan tradisional di kawasan Manggar Baru, Balikpapan Timur, kian terjepit. Saat ini, mereka harus menghadapi kesulitan ganda. Selain dihantam cuaca ekstrem akibat musim angin selatan yang memicu gelombang tinggi, nelayan juga menghadapi sulitnya mendapatkan pasokan solar bersubsidi untuk melaut.

Mutaji (60), seorang nelayan di RT 32 Kelurahan Manggar Baru, mengungkapkan bahwa kekosongan pasokan solar di tingkat stasiun pengisian bisa berlangsung berhari-hari.

"Biasanya kosong bisa dua hari, tiga hari, bahkan sampai seminggu. Sudah susah melaut dan cari ikan karena gelombang tinggi, sekarang solar juga susah didapatkan," pasrah Mutaji, Sabtu (18/7).

Akibat kelangkaan ini, para nelayan terpaksa beralih ke solar eceran dengan harga yang jauh lebih mencekik demi bisa menyambung hidup.

Terpaksa Beli Solar Eceran

Dalam kondisi normal, para nelayan bisa bernapas lega karena dapat mengakses solar bersubsidi dengan harga Rp6.800 per liter. Dengan kuota yang lancar, mereka biasanya membutuhkan sekitar 20 liter solar atau setara Rp136.000 untuk sekali melaut, dan berpotensi membawa pulang pendapatan maksimal hingga Rp1.000.000.

Namun, realitas saat ini berbalik drastis akibat pasokan solar subsidi yang sering kosong selama 3 hingga 7 hari. Kondisi ini memaksa nelayan beralih ke solar eceran dengan harga Rp9.000 per liter, yang membuat biaya operasional membengkak tak menentu tergantung ketersediaan stok di pasaran.

Beban pengeluaran yang melonjak ini kian menjepit nelayan lantaran pendapatan mereka sekali melaut merosot tajam, hanya berkisar antara Rp50.000 hingga Rp200.000 saja.

"Kalau gelombang tinggi seperti sekarang menangkap ikan juga susah. Pendapatan juga menurun, paling-paling Rp200 ribu, bahkan bisa hanya Rp50 ribu saja," kata Mutaji.

Bagi Mutaji, selisih harga eceran sebesar Rp2.200 per liter sangat memberatkan kantongnya. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain.

"Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak ada solar kan kami tidak bisa melaut. Kalau tidak melaut, kami tidak bisa makan," tuturnya.

Akibat ketiadaan modal, pria paruh baya ini bahkan sudah dua hari memarkir kapalnya di dermaga dan hanya bisa melakukan perawatan mesin serta memperbaiki kerusakan kecil pada kapal. "Sudah dua hari, besok mungkin tidak melaut lagi. Tidak ada modal, mau bagaimana lagi," katanya.

Gelombang Tinggi, Pendapatan Berkurang

Keluhan senada diutarakan oleh M. Yunus, nelayan rengge lainnya. Ia menyebut jatah solar subsidi untuk melaut belakangan sulit diandalkan. Minimnya hasil tangkapan di tengah cuaca buruk juga membuat pengeluaran kerap tidak sebanding dengan hasil penjualan ikan.

"Pendapatan sekali melaut kadang cuma dapat Rp200 ribu, bahkan Rp50 ribu. Nombok kita. Kalau musim normal ya beda, pasti ada saja hasilnya," ketus Yunus.

Ia sangat berharap pemerintah dapat mempermudah akses dan menjaga kestabilan pasokan bahan bakar bagi nelayan kecil. "Kalau solarnya murah dan mudah didapat, setidaknya beban kami berkurang. Itu saja harapan kami," tambahnya.

Kondisi merugi ini juga dirasakan langsung oleh Fauzan, nelayan yang baru saja merapatkan kapalnya ke daratan pada Jumat sore. Dengan wajah letih, dia mengaku hasil tangkapan ikannya hanya Rp100 ribu.

"Saya baru saja kembali dari laut, tadi cuma dapat (ikan senilai) Rp100 ribu saja. Jelas tidak menutup biaya operasional. Kan pengeluaran kita tidak cuma beli solar, ada uang makan dan rokok juga selama di atas kapal," pungkas Fauzan.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :