PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Lumba-Lumba Viral di Mahakam Picu Spekulasi, BKSDA Kaltim Ungkap Pemicunya

Home Berita Lumba-lumba Viral Di Maha ...

Di balik viralnya video mamalia air di Sungai Mahakam, BKSDA Kalimantan Timur mengungkap penjelasan berbeda dari dugaan publik.


Lumba-Lumba Viral di Mahakam Picu Spekulasi, BKSDA Kaltim Ungkap Pemicunya
BUKAN PESUT — Tangkapan layar (screenshot) video viral di media sosial yang memperlihatkan kemunculan mamalia air di Sungai Mahakam, kawasan Kota Samarinda. BKSDA Kaltim mengonfirmasi bahwa satwa tersebut merupakan lumba-lumba laut yang bermigrasi akibat intrusi air asin selama musim kemarau, bukan Pesut Mahakam seperti spekulasi masyarakat. (Foto: Istimewa/Dok. Media Sosial Infokukar)

EKSPOSKALTIM, Samarinda— Jagat maya Kalimantan Timur (Kaltim) dihebohkan oleh beredarnya rekaman video amatir yang memperlihatkan kemunculan sesosok mamalia air di permukaan Sungai Mahakam, kawasan Kota Samarinda.

Spekulasi liar pun langsung merebak di tengah masyarakat. Banyak pihak menduga kuat bahwa satwa tersebut adalah Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar legendaris yang menjadi ikon sekaligus kebanggaan provinsi ini.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur segera meluruskan kesimpangsiuran informasi tersebut. Berdasarkan analisis visual terhadap rekaman yang beredar, satwa misterius itu diyakini kuat bukanlah pesut, melainkan lumba-lumba laut yang tersesat jauh dari habitat aslinya.

Pengendali Ekosistem Hutan Muda BKSDA Kaltim, Ahmad Ripai, menjelaskan bahwa perbedaan morfologi fisik menjadi bukti kunci yang mematahkan dugaan masyarakat.

"Kalau dilihat sepintas memang menyerupai lumba-lumba karena memiliki moncong yang jelas. Tapi kan pesut tidak memiliki moncong menonjol seperti itu. Jadi, kemungkinan besar satwa ini bergerak mengikuti arah pergerakan air," ujar Ahmad Ripai, Jumat (17/7/2026).

Migrasi lumba-lumba laut hingga mencapai wilayah perkotaan Samarinda ini erat kaitannya dengan fenomena alam yang sedang melanda wilayah hulu dan hilir Mahakam. Penurunan debit air tawar akibat musim kemarau yang telah berlangsung selama satu hingga dua minggu terakhir memicu terjadinya intrusi air asin dari laut ke dalam sistem sungai. Ahmad Ripai membenarkan adanya korelasi kuat antara fenomena intrusi ini dengan kehadiran sang lumba-lumba.

"Hal ini menciptakan kondisi air payau yang kemudian diikuti oleh lumba-lumba tersebut hingga akhirnya sampai ke titik penampakan kemarin,” jelasnya.

Menanggapi rumor yang menyebutkan bahwa mamalia laut tersebut telah bermigrasi lebih jauh ke hulu hingga melintasi Jembatan di kawasan Kota Bangun, BKSDA Kaltim memberikan batasan geografis yang tegas berdasarkan hukum alam dan kadar salinitas air. Menurut Ripai, potensi jangkauan intrusi air payau yang menjadi syarat hidup sementara bagi lumba-lumba tersebut sangat terbatas.

"Potensi terjauh dari aliran air payau ini diperkirakan hanya akan mencapai wilayah Loa Duri saja. Kalau dikabarkan sampai ke Kota Bangun, rasanya itu tidak mungkin terjadi," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kawasan hulu, khususnya di sekitar Desa Pela, Kota Bangun, tetap menjadi benteng pertahanan ekologis dan habitat alami bagi populasi Pesut Mahakam yang sesungguhnya. Di kawasan itulah pesut lokal masih kerap menampakkan diri secara intensif.

Meski lumba-lumba laut memiliki kemampuan adaptasi instan yang cukup baik terhadap kondisi air payau, keberadaan mereka di jalur transportasi padat seperti Sungai Mahakam menyimpan risiko fatal yang sangat besar.

Sama halnya dengan pesut, lumba-lumba sangat bergantung pada sistem sonar biologis untuk navigasi dan berburu. Di tengah bisingnya hilir mudik kapal-kapal besar di Sungai Mahakam, alat navigasi alami mereka dipastikan akan mengalami gangguan serius.

"Mereka mengandalkan sonar yang sensitif. Di tengah kondisi sungai yang sangat bising karena aktivitas hilir mudik kapal, sistem sonar mereka tentu akan sangat terganggu," tutup Ripai.

Pihak BKSDA Kaltim menegaskan bahwa keberadaan lumba-lumba ini di Sungai Mahakam bersifat sementara. Jika masa kemarau berakhir dan debit air tawar kembali normal, satwa tersebut secara naluriah akan segera berenang kembali menjauhi sungai menuju habitat aslinya di laut lepas demi menjaga kelangsungan hidupnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :