Seorang bayi berusia tiga bulan di Samarinda mengalami luka serius hingga tangan menghitam usai pemasangan infus. Memicu penyelidikan oleh Dinas Kesehatan Kalimantan Timur atas dugaan kelalaian medis.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Kasus dugaan kelalaian medis yang menimpa bayi berusia tiga bulan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda memicu perhatian serius, setelah tangan korban dilaporkan membengkak hingga menghitam usai pemasangan infus.
Dinas Kesehatan Kalimantan Timur memastikan tengah mendalami kasus tersebut menyusul laporan awal dari tim perlindungan perempuan dan anak terkait kondisi korban.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menyebut insiden ini sebagai kejadian tidak diinginkan yang harus segera ditindaklanjuti.
“Kami sedang menghimpun informasi dan mendalami kejadian tersebut. Masalah ini harus segera diselesaikan oleh pihak rumah sakit,” ujarnya di Samarinda, Kamis (2/4).
Ia mengungkapkan laporan awal menyebut bayi mengalami pembengkakan dan perubahan warna kulit menjadi hitam pada area bekas pemasangan infus.
Dinkes meminta manajemen rumah sakit segera memanggil pihak keluarga dan menyampaikan kronologi kejadian secara terbuka sebagai bentuk tanggung jawab.
“Langkah cepat diperlukan untuk mencegah ketidakpuasan masyarakat yang bisa berujung pada somasi atau tuntutan hukum,” kata Jaya.
Kasus ini bermula saat korban menjalani perawatan muntaber pada 6 Maret, ketika dilakukan pemasangan infus ulang di tangan kanan. Orang tua korban, Rafita, menyebut cairan infus diduga tidak masuk ke pembuluh darah, melainkan ke jaringan sekitar.
Akibatnya, tangan bayi mengalami pembengkakan, melepuh, hingga menghitam.
Pihak rumah sakit disebut sempat menyarankan tindakan operasi bedah plastik, namun keluarga menolak karena mempertimbangkan risiko pada usia bayi yang masih sangat kecil.
Hingga kini, keluarga berharap pihak rumah sakit memberikan tanggung jawab penuh atas kondisi yang dialami anak mereka.
Dinkes menegaskan, sesuai pedoman Kementerian Kesehatan, setiap layanan medis wajib mengutamakan keselamatan pasien dengan target insiden fatal berada di angka nol persen. (ant)


