Cuaca di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan diprakirakan relatif kondusif pada Rabu. Namun BMKG tetap mengingatkan potensi hujan di sejumlah wilayah Kalimantan seiring meningkatnya pertumbuhan awan akibat aktivitas konvergensi.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca berupa potensi hujan ringan, sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia pada Rabu (12/8/2026).
Berdasarkan prakiraan BMKG, cuaca di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan cenderung didominasi kondisi berawan. Kota Samarinda dan Banjarmasin diprakirakan berada dalam kondisi berawan sepanjang hari, sedangkan Tanjung Selor, Kalimantan Utara, berpotensi mengalami hujan ringan.
Prakirawan BMKG Miftah Ali menjelaskan kondisi cuaca tersebut dipengaruhi adanya daerah konvergensi yang memanjang di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.
Daerah konvergensi terpantau membentang dari Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah, serta dari Kalimantan Utara menuju wilayah Sabah, Malaysia. Kondisi ini meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah yang dilaluinya.
“Daerah konvergensi dan konfluensi ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilaluinya,” jelas Miftah dalam prakiraan cuaca yang dirilis BMKG.
Selain Tanjung Selor, hujan ringan juga diprakirakan terjadi di Medan, Padang, Ambon, dan Jayapura.
Sementara itu, sejumlah kota besar lainnya diperkirakan hanya mengalami cuaca berawan, di antaranya Banda Aceh, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Bengkulu, Pangkal Pinang, Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, Mamuju, Gorontalo, Kendari, Manado, Ternate, Manokwari, Nabire, hingga Merauke.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami hujan disertai petir dan angin kencang.
Sebelumnya, BMKG juga mengungkapkan fenomena El Nino masih berada pada kategori kuat dan diperkirakan bertahan hingga puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026. Kondisi tersebut turut diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang menyebabkan pasokan hujan ke sejumlah wilayah Indonesia berkurang.
Meski sebagian wilayah Kalimantan masih berpeluang mengalami hujan, BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau masih berlangsung dan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.


