Penyebab puluhan siswa SMP Vidatra Bontang mengalami mual, muntah hingga harus mendapat perawatan medis masih menunggu hasil laboratorium. Namun dalam proses evaluasi, menu ayam suwir kemangi menjadi salah satu makanan yang paling banyak didalami.
EKSPOSKALTIM, Bontang – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5 masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengungkap penyebab gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa SMP Vidatra Bontang. Gangguan, muncul setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (10/8).
Sampai kini, pihak pengelola dapur belum dapat memastikan jenis makanan yang menjadi pemicu munculnya keluhan mual, muntah, sesak napas, hingga membuat sejumlah siswa harus mendapatkan perawatan medis.
Kepala SPPG Bontang Selatan 5, Gusti, mengatakan seluruh dugaan masih bersifat sementara karena hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar.
Meski demikian, salah satu menu yang kini menjadi perhatian dalam proses penelusuran adalah ayam suwir kemangi.
"Begitu saya dapat telepon dari atasan bahwa menu ayam suwir yang kemungkinan menjadi penyebab kejadian kemarin itu, tapi ini masih dugaan," ujarnya dalam rapat evaluasi MBG, Selasa (11/8).
Gusti menegaskan belum ada kesimpulan resmi mengenai sumber gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
"Yang bisa memastikan penyebabnya nanti hasil pemeriksaan laboratorium. Kami menunggu hasil resminya," tegasnya.
Pada hari kejadian, menu MBG yang dibagikan kepada siswa terdiri atas nasi uduk tanpa santan, ayam suwir kemangi, oseng tahu, tumis pepaya dan wortel, serta buah jeruk Pontianak.
Untuk memastikan sumber masalah, sampel makanan dari sekolah maupun dapur SPPG telah dikirim untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) dan laboratorium PT Badak.
Klaim Sudah Sesuai SOP
Di tengah proses investigasi, Gusti memastikan seluruh tahapan produksi makanan di dapur SPPG selama ini dijalankan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Menurut dia, prosedur tersebut mencakup penggunaan alat pelindung diri (APD), pemeriksaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan ke sekolah.
Ia menjelaskan bahan baku ayam diterima dalam kondisi beku pada siang hari sehari sebelum dimasak. Sementara bahan lain seperti tahu diterima pada sore hingga malam hari dan langsung diolah.
"Kalau tahu datang magrib, malam itu juga langsung dimasak," jelasnya.
Setiap bahan yang masuk, lanjut Gusti, terlebih dahulu diperiksa oleh petugas administrasi dan tim dapur. Apabila ditemukan bahan yang tidak layak, pemasok diminta menggantinya.
Selain proses produksi, waktu konsumsi makanan juga menjadi bagian dari prosedur keamanan pangan yang diterapkan.
Makanan yang telah diterima sekolah dianjurkan segera dikonsumsi dan tidak lebih dari satu jam setelah didistribusikan.
Hasil Lab Diperkirakan Tiga Hari Lagi
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan proses pemeriksaan laboratorium membutuhkan waktu karena harus melalui sejumlah tahapan pengujian.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya kandungan maupun kontaminasi tertentu pada makanan yang dibagikan kepada siswa.
"Pemeriksaan seperti ini tidak bisa dilakukan dengan instan, kemungkinan tiga hari lagi keluar hasilnya," jelas Toetoek.
Hasil laboratorium tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa sekaligus bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG di Bontang.



