Enam tahun pengerjaan dan investasi jumbo Rp123 triliun mengubah total wajah Kilang Balikpapan. Bukan sekadar menambah kapasitas.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan resmi menutup fase panjang modernisasi Kilang Balikpapan setelah enam tahun konstruksi. Dengan total investasi sekitar Rp123 triliun, proyek ini mengubah kilang lama menjadi kompleks pengolahan modern yang mampu menopang ketahanan energi nasional.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyebut RDMP bukan sekadar proyek penambahan kapasitas, melainkan perubahan mendasar pada sistem dan alur kerja kilang. “RDMP Balikpapan ini bukan hanya menambah kapasitas olah, tapi mengubah cara kilang bekerja. Dengan modernisasi, kilang menjadi lebih fleksibel, lebih efisien, dan mampu mengolah crude dengan karakteristik yang lebih beragam,” ujar Simon di Balikpapan, saat peresmian operasional kilang oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin (12/1).
Melalui RDMP, kapasitas olah Kilang Balikpapan meningkat dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari. Perubahan ini ditopang oleh hadirnya unit-unit proses baru yang memungkinkan produksi BBM berkualitas lebih tinggi dan lebih ramah lingkungan. Salah satu unit kunci adalah Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Sebelum RDMP, residu berat hasil pengolahan minyak mentah belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Kini, residu tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti gasoline dan LPG.
Direktur PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), Bambang Harimurti, menyebut RFCC sebagai unit yang paling menentukan sekaligus paling menantang dalam keseluruhan proyek RDMP. “RFCC mengubah struktur produksi kilang karena meningkatkan yield produk bernilai tinggi. Tapi ini juga unit paling kompleks dan sempat menghadapi tantangan serius,” ujarnya.
Dalam perjalanan proyek, pekerjaan RFCC sempat terganggu akibat dinamika dengan kontraktor asing terkait biaya dan skema pembayaran. Situasi tersebut bahkan membuka opsi penyelesaian melalui arbitrase internasional, sebelum akhirnya distabilkan lewat intervensi pemerintah dan penataan ulang manajemen proyek.
Selain RFCC, RDMP juga merevitalisasi Crude Distillation Unit (CDU) serta meningkatkan unit pendukung seperti hydrotreater, reformer, dan sulfur recovery. Hasilnya, Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi BBM dengan standar Euro V.
Modernisasi tersebut tercermin dari kenaikan Nelson Complexity Index (NCI) kilang, dari 3,7 menjadi 8,0. Wakil Presiden Bidang Humas Pertamina, Muhammad Baron, menyebut lonjakan NCI sebagai indikator utama transformasi kemampuan kilang. “Angka ini menunjukkan kemampuan kilang mengolah crude yang lebih beragam dan menghasilkan produk bernilai lebih tinggi,” kata Baron.
Di luar area kilang, proyek RDMP turut memperkuat infrastruktur pendukung. Di antaranya pembangunan Single Point Mooring (SPM) Lawe-Lawe yang mampu menerima kapal hingga 320.000 DWT, dua tangki crude berkapasitas masing-masing 1 juta barel, serta pipa gas Senipah–Balikpapan sepanjang 78 kilometer.
Pembangunan pipa gas tersebut menjadi fase yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat. Jalur pipa yang melintasi ruas jalan utama menyebabkan gangguan lalu lintas dan ketidakstabilan badan jalan di sejumlah titik, terutama saat galian bersinggungan dengan utilitas lama.
Secara keseluruhan, proyek RDMP Balikpapan berlangsung dalam 16 paket pekerjaan sejak tahap awal, termasuk pembebasan lahan dan relokasi fasilitas lama. Tantangan terbesar adalah menjaga operasional kilang tetap berjalan di tengah proses konstruksi besar-besaran.
RDMP Balikpapan diresmikan Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerjanya ke Balikpapan. Presiden menegaskan modernisasi kilang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM.
Dengan kapasitas dan kompleksitas yang meningkat, Kilang Balikpapan kini menjadi salah satu kilang paling modern di Indonesia dan berperan sebagai tulang punggung pasokan BBM di kawasan timur, sekaligus menandai babak baru kemampuan pengolahan minyak nasional.


