Barito Kuala, EKSPOSKALTIM - Setiap pagi, perahu-perahu nelayan merapat di muara Sungai Anjir, tak jauh dari Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak. Di atas perahu itulah transaksi jual beli hasil tangkapan dimulai, menciptakan apa yang masyarakat sebut sebagai pasar terapung, aktivitas khas pesisir yang menjadi denyut ekonomi harian.
Ikan-ikan air tawar seperti baung, lais, patin, hingga seluang berpadu dengan tangkapan bernilai tinggi: udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Udang berukuran besar dengan capit khas ini menjadi incaran utama karena nilai jualnya yang menggiurkan.
Ipan, nelayan berusia 54 tahun dari Desa Marabahan Baru, adalah satu dari sekian warga yang menggantungkan hidup dari kekayaan Sungai Barito. Sejak adanya program konservasi di Pulau Curiak oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) pada 2015, kawasan ini menjelma menjadi habitat subur bagi ikan dan udang.
Konservasi yang awalnya fokus pada pelestarian bekantan—primata berhidung panjang endemik Kalimantan—secara tidak langsung memperbaiki keseimbangan ekologis kawasan. Dengan ekosistem yang lebih sehat, populasi ikan dan udang meningkat, membawa limpahan berkah bagi masyarakat sekitar.
“Saya dulu hanya nelayan. Sekarang saya juga jadi relawan dan pemandu wisata bekantan,” ujar Ipan, tersenyum. Ia merasa kehidupannya makin bermakna sejak bergabung dengan SBI.
Hal senada diungkapkan Rapi, nelayan asal Desa Anjir Muara 1. Menurutnya, hutan mangrove rambai yang kini kembali tumbuh lebat menjadi kunci keberhasilan ekosistem. Udang galah yang dulunya sulit didapat, kini melimpah. Pendapatan nelayan pun meningkat.
Pohon rambai yang sempat nyaris punah akibat eksploitasi—akar-akar pohonnya diambil untuk industri tutup botol dan shuttlecock—kini kembali tumbuh berkat program restorasi mangrove oleh tim SBI. Lebih dari 25.000 bibit rambai telah ditanam, bahkan beberapa sudah membentuk pulau-pulau kecil di sekitar Curiak.
Mangrove rambai bukan hanya tempat berpijah ikan dan udang, tetapi juga rumah bagi bekantan dan primata lainnya seperti lutung. Reptil, biawak, dan ratusan jenis burung juga turut menyemarakkan keragaman hayati kawasan ini. Ketika musim migrasi tiba, langit di atas Curiak riuh oleh kicauan burung-burung yang singgah.
Dari Pulau Terlantar ke Pusat Perhatian Dunia
Dulu, Pulau Curiak hanyalah daratan kecil seluas 2,7 hektare, tidak jauh dari Taman Wisata Alam Pulau Bakut. Berbeda dari Pulau Bakut yang dikelola pemerintah, Pulau Curiak dibangun secara mandiri oleh SBI melalui program wakaf lahan. Kini, luas daratannya mencapai lebih dari 11 hektare berkat penanaman mangrove yang terus berlangsung.
Program konservasi ini juga membuka peluang wisata minat khusus. Wisatawan, peneliti, hingga mahasiswa dari dalam dan luar negeri datang untuk menyusuri sungai, menanam pohon rambai, dan mengamati bekantan dari dekat menggunakan perahu kelotok. Namun, kunjungan ke Curiak tidak bisa sembarangan—semua harus dijadwalkan melalui SBI agar prinsip konservasi tetap terjaga.
Amalia Rezeki, pendiri SBI yang juga dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM), memainkan peran sentral dalam membawa nama Pulau Curiak ke panggung dunia. Dia bahkan membangun Camp Tim Roberts, dinamai dari profesor asal University of Newcastle, Australia, yang turut membantu pengembangan Stasiun Riset Bekantan.
Berbagai pengakuan internasional pun datang. Pada 16 April 2025, Pulau Curiak resmi menjadi bagian dari UNESCO Global Geoparks sebagai bagian dari kawasan Geopark Meratus.
Sekjen Global Geopark Network, Dr. Guy Martini, pernah datang langsung ke Curiak pada 2022 dan mengaku terkesan dengan kolaborasi lintas sektor yang berjalan harmonis—dari konservasi, edukasi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ekowisata dan Harapan Baru Warga
Tak hanya memperbaiki ekosistem, konservasi di Pulau Curiak juga mengubah wajah ekonomi lokal. Sulaiman, tokoh masyarakat dari Desa Anjir Serapat Muara 1, menceritakan bagaimana masyarakat kini terlibat aktif sebagai pemandu wisata, operator perahu, dan pengusaha kuliner.
SBI memberikan pelatihan secara berkala kepada anggota kelompok sadar wisata (Pokdarwis), termasuk dalam pengembangan produk berbasis ikan seperti seluang goreng. Perahu kelotok pun disumbangkan agar warga bisa mengantar wisatawan menyusuri sungai.
“Dulu, kami hanya mengandalkan bertani dan menangkap ikan. Sekarang ada tambahan dari pariwisata. Kami merasa dihargai dan punya harapan baru,” ujar Sulaiman.
Pulau Curiak telah menjadi contoh nyata bagaimana alam, manusia, dan satwa bisa hidup berdampingan. Bekantan bukan hanya simbol fauna Kalimantan Selatan, tapi juga lambang harmonisasi kehidupan di lahan basah.
Pemanfaatan kekayaan hayati yang berkelanjutan, ditambah kepedulian terhadap budaya lokal, menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian. Prinsip inilah yang sejalan dengan syarat UNESCO bagi warisan bumi: lestari, inklusif, dan berdaya guna bagi masyarakat.

