26 November 2020
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Opini : Cancel Culture Ancaman Bagi Public Figure?


Opini : Cancel Culture Ancaman Bagi Public Figure?
Asri Octasyadewi, Mahasiswi IAIN Samarinda Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. (ist)

EKSPOSKALTIM.COM - Tahukah kamu apa itu cancel culture? Dikutip dari laman Wikipedia cancel culture atau call-out-culture adalah sebuah fenomena berbentuk public shaming yang diarahkan kepada seorang individu (biasanya seseorang yang terkenal) karena kelakukan “problematis”-nya atau karena opininya yang berbeda dengan opini mayoritas.

Budaya ini membuat seseorang berpikir lebih dalam saat memutuskan sesuatu, apakah tindakannya dapat diterima masyarakat atau tidak.

Menurut Urban Dictionary cancel, culture adalah keinginan untuk membatalkan seseorang atau komunitas dari platform media sosial. Secara sederhana cancel culture ini juga berarti usaha kolektif masyarakat untuk memboikot seseorang atas perbuatan atau perkataannya.

Biasanya, tokoh yang di cancel telah melakukan suatu hal yang buruk, seperti kekerasan seksual hingga komentar rasial. New York Times juga mendefinisikan bahwa budaya ini adalah penyerangan terhadap reputasi maupun pekerjaan seseorang terhadap kritik kolektif.

Baca Juga: Heboh, ASN Bontang Ditemukan Meninggal di Sekolah

Berawal dari film tahun 1991 berjudul New Jack City hingga reality show VH1 berjudul Love and Hip Hop: New York. Cancel culture dianggap sebagai kelanjutan dari woke culture dan  call out culture. Dimana “woke” artinya bangun, namun dalam hal ini sadar/melek dan dapat diartikan sebagai sikap sadar dalam berbagai isu sosial.

Hal ini berawal oleh para aktivis yang peduli terhadap isu sosial dan menggunakan media sosial sebagai penyalurnya. Menyampaikan kegusaran karena ketidakpuasan terhadap sesuatu brand/jasa di media sosial inilah yang disebut call out culture.   

Pada dasarnya cancel culture merujuk pada gagasan untuk “membatalkan” seseorang dengan arti memboikot atau menghilangkan pengaruh orang tersebut baik di media sosial maupun nyata.

Bermula pada seorang public figure yang melakukan hal salah ataupun mengatakan sesuatu yang mengundang makian dari warga internet.

Sehingga banyak pihak yang menyerukan untuk memboikot public figure tersebut. Setelah itu si pihak mengakui kesalahannya dan meminta maaf lalu tidak mengulanginya lagi. Dihukum jika melanggar aturan yang berlaku lalu kembali lagi ke dunia sosial. Tetapi tak jarang ada public figure yang sulit mendapatkan kepercayaan masyarakat lagi.

Public figure ini dikenal sebagai orang yang mempunyai massa, baik di media sosial maupun dunia nyata. Baik di kalangan politik, sosial maupun selebriti. Dengan adanya media sosial orang-orang yang dianggap sebagai public figure ataupun sosial influencer akan terpantau oleh warga internet atau sering disebut netizen.

Segala yang diupload/unggah oleh public figure ke media sosialnya akan menimbulkan komentar. Sehingga mereka harus berhati-hati dengan apa yang akan mereka unggah.

Sebagai manusia, pastinya akan ada kesalahan yang menyertai. Hal inilah yang menimbulkan aktivitas cancel culture. Di mana public figure yang melakukan kesalahan akan di-judge sebagai manusia paling berdosa.Kata-kata yang menyakiti hati tak jarang terlihat di kolom komentar media sosial public figure yang bermasalah. netizen terus berkomentar tanpa adanya klarifikasi dari pihak terkait.

Baca Juga: Putra Mendiang Adi Darma Ungkap Gagasan Sang Ayah Bagi Anak Muda Kreatif Bontang

Bahkan, ada yang berkomentar mengenai keluarga yang bersangkutan. Padahal, pihak keluarga tidak ada sangkut pautnya terhadap masalah yang terjadi. Mungkin netizen itu tidak sadar bahwa membully orang lain lewat media sosial juga bukan hal yang baik. Kegiatan cancel culture ini tidak hanya dengan melontarkan komentar-komentar jahat. Melainkan bisa sampaikepada pemblokiran massal akun media sosialnya, bahkan karir public figure tersebut bisa terancam. 

Lalu apakah hanya public figure yang akan terkena cancel culture?

Orang biasa pun bisa menjadi sasaran cancel culture jika melakukan kesalahan yang dianggap kebanyakan masyarakat salah. Menyampaikan pendapat pribadi di media sosial juga bisa saja terkena cancel culture ini jika pendapat tersebut tidak populer bagi netizen.

Baca Juga: Usai Duduki DPRD Bontang, Mahasiswa Kobarkan Api Penolakan Omnibus Law di Simpang Ramayana

Sikap ini menghilangkan tabayyun atau mencari kejelasan terhadap sesuatu sampai jelas adanya dan langsung menyimpulkan orang itu benar-benar salah. Tak jarang pula kasus cancel culture ini berawal dari “call out”nya postingan lama melalui akun media sosial seseorang.

Bagi mereka yang tidak peduli kapan atau bagaimana postingan itu ada, akan langsung mengomentari hal tersebut. Terlebih jika itu bertentangan dengan masyarakat luas.

Sementara bisa saja postingan itu telah diunggah jauh sebelum ia mengerti apa yang ditulisnya atau bisa jadi pandangannya sudah berubah menjadi lebih baik. Bahkan dalam setahun seseorang bisa berubah dengan banyak. Sehingga hal ini tidak bisa dijadikan alasan masyarakat meng-cancel seseorang. Kita harus lihat terlebih dahulu apakah ia mau menjelaskannya atau tidak.

Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial yang aktif hendaknya kita bisa dengan bijak mengambil kesimpulan dan bersikap.Kita harus paham bahwa apa yang ada di media sosial bisa saja hanya sekian persen merepresentasikan pemiliknya.

Lihat Juga: VIDEO : Berkas Lengkap, Basri - Najirah Resmi Berpasangan di Pilkada Bontang

Penting kita sadari bahwa seorang public figure bukanlah seorang yang tidak akan melakukan kesalahan. Mereka juga manusia yang kapanpun bisa terpleset baik lisan maupun perbuatannya. Tentu kita boleh sadar akan isu-isu di media sosial, tapi berkomentarlah sesuai fakta, dengan bahasa yang sopan dan pada tempatnya.

Penulis : Asri Octasyadewi (Mahasiswi IAIN Samarinda Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam)

Artikel di atas menjadi tanggung jawab penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com

Reporter :     Editor : Abdullah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0