PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Udara Samarinda Makin Pekat, PM2.5 Tembus 249,2 Tak Sehat

Home Berita Udara Samarinda Makin Pek ...

Asap karhutla membuat kualitas udara Samarinda memburuk. Konsentrasi PM2.5 di sejumlah titik pemantauan menembus 249,2 µg/m³. 


Udara Samarinda Makin Pekat, PM2.5 Tembus 249,2 Tak Sehat
Kualitas udara di Kota Samarinda kian memburuk. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda — Kualitas udara Samarinda memburuk seiring pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda menunjukkan konsentrasi PM2.5 di dua titik pemantauan masuk kategori sangat tidak sehat, dengan angka tertinggi mencapai 249,2 µg/m³ di kawasan Samarinda Utara.

Plt Kepala DLH Samarinda, Suwarso, mengatakan hasil analisis dari alat pemantau kualitas udara di APT Pranoto dan Taman Segiri menunjukkan kondisi yang masih fluktuatif. Namun, pada titik tertentu, kualitas udara telah berada pada level yang mengkhawatirkan.

Di APT Pranoto, konsentrasi PM2.5 tercatat 249,2 µg/m³. Kondisi terburuk terjadi sekitar pukul 05.00 Wita. Sementara pemantauan di kawasan pusat kota juga mencatat angka tinggi, yakni 242 µg/m³.

“Kalau di alat ukur yang ada di APT Pranoto itu memang situasinya saat ini (kualitas udara) sangat tidak sehat,” kata Suwarso, Rabu (17/9/2026).

DLH Siapkan Penyemprotan Embun

Pemkot Samarinda juga menyiapkan langkah lain untuk menghadapi kondisi udara yang memburuk. DLH berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), BPBD dan Polresta Samarinda untuk melakukan upaya penyemprotan menggunakan metode embun yang dicampur ecoenzym.

DLH menyebut telah mengumpulkan sekitar 35 liter ecoenzym yang akan digunakan dalam penyemprotan. Distribusi dilakukan menggunakan kendaraan Damkar, BPBD maupun kendaraan lainnya dengan metode penyemprotan berupa embun.

“Dan akan disebar ke kota Samarinda melalui mobil Damkar, BPBD, maupun mobil Forest dengan penyemprotan embun,” katanya.

Suwarso mengatakan teknis penyemprotan akan dibahas bersama dengan pengaturan jarak antar titik sekitar 10–15 kilometer. Jika pasokan ecoenzym kembali diperoleh dari kelompok atau komunitas, penyemprotan dapat dilanjutkan. Menurutnya, seluruh unsur yang dilibatkan telah menyatakan kesiapan untuk mendukung pelaksanaan penyemprotan.

Krisis Air Bersih Ikut Dikejar

Di tengah persoalan udara, Pemkot Samarinda juga masih harus mempercepat distribusi air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan. Suwarso mengatakan evaluasi distribusi menunjukkan armada yang tersedia belum sepenuhnya mampu mengejar kebutuhan pengiriman.

Ia menyebut saat ini terdapat sekitar 16 kendaraan tangki yang digunakan dalam distribusi. Jumlah tersebut membuat jadwal pengiriman harus berjalan bergiliran sehingga berpotensi memperlambat bantuan ke wilayah yang membutuhkan.

“Dari hasil evaluasi memang dengan jumlah kendaraan sekitar 16 tangki, ternyata jadwal pengirimannya menjadi sesuai urutannya, menjadi agak terlambat pengirimannya,” ungkapnya.

Untuk mempercepat distribusi, Pemkot kemudian menyiapkan tambahan 20 unit tandon yang akan ditempatkan pada armada milik PUPR. Setiap truk nantinya membawa dua tandon dengan kapasitas masing-masing 2.200 liter. Dengan dua unit dalam satu kendaraan, kapasitas angkut mencapai 4.400 liter untuk sekali distribusi.

“Kita membantu distribusi supaya ada percepatan-percepatan pengiriman kepada wilayah-wilayah yang mengalami kekurangan air bersih. Itu upaya-upaya percepatannya,” jelasnya.

Pemantauan kondisi air baku pun tetap berjalan bersamaan dengan penanganan kekeringan. Evaluasi dilakukan secara berkala untuk menentukan langkah berikutnya sesuai perkembangan kualitas sumber air.

“Ini kita evaluasi terus sambil kita melihat perkembangan dari kualitas air baku kita yang dilaksanakan pemeriksaannya per jamnya itu dilakukan oleh PJM,” pungkas Suwarso.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :