PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Asap Makin Pekat di Samarinda, PM2.5 Tak Sehat dan Asap Terjebak di Bawah Awan

Home Berita Asap Makin Pekat Di Samar ...

Asap kebakaran hutan dan lahan kembali menekan kualitas udara Samarinda. PM2.5 terpantau berada pada level yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. 


Asap Makin Pekat di Samarinda, PM2.5 Tak Sehat dan Asap Terjebak di Bawah Awan
Suasana Kota Samarinda terlihat diselimuti asap kebal ditengah karhutla. Warga mengenakan masker sebagai pelindung diri. Foto: Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda— Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menekan kualitas udara Samarinda. Pemantauan pewarta di Samarinda Seberang pada Rabu (16/9) menunjukkan kepulan asap terlihat lebih tebal, sementara kualitas udara berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Pantauan IQAir pada pukul 16.20 Wita mencatat indeks kualitas udara Samarinda mencapai 108 AQI US, dengan polutan utama PM2.5 sebesar 38,2 µg/m³. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Data BMKG juga menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Samarinda berada pada kategori tidak sehat pada hari yang sama.

Forecaster BMKG Samarinda, Duo Rahman Abdilah, mengatakan penurunan kualitas udara tersebut berjalan bersamaan dengan berkurangnya jarak pandang di Samarinda. Kondisi itu, menurutnya, berkaitan dengan keberadaan asap dan tutupan awan yang cukup tebal.

“Hasil observasi kami memang saat ini udara cenderung turun, kemudian visibilitas atau pandangan ini juga berkurang akibat adanya asap dan juga tutupan awan yang cukup menutupi langit di Samarinda,” kata Rahman.

Berbeda dengan kondisi kemarau yang umumnya ditandai minimnya tutupan awan, saat ini awan justru menutup sebagian besar wilayah Samarinda. Akibatnya, radiasi matahari yang diterima permukaan ikut berkurang sehingga suhu udara mengalami penurunan.

Namun, tutupan awan tersebut juga berperan dalam membuat asap bertahan lebih lama di dekat permukaan.

“Visibilitas yang berkurang ini besar dipengaruhi oleh adanya asap dari kebakaran hutan karena dari tutupan awannya cukup banyak, jadi asap itu cenderung terperangkap di bawah permukaan daerah Samarinda,” jelasnya.

Bukan Kabut, BMKG Pastikan Asap

Rahman memastikan berkurangnya jarak pandang saat ini bukan semata-mata disebabkan kabut. Parameter kelembapan yang terpantau BMKG masih berada di sekitar 70 persen, jauh dari kondisi yang umumnya dapat menjadi indikator kabut tebal.

“Dari data kelembaban kami itu tidak cukup sampai dikatakan ini kabut karena dia di bawah dari 90 malah sekarang sekitar 70 untuk kelembabannya. Makanya kami bisa mengatakan ini faktor dari asap,” ujarnya.

BMKG melihat kondisi atmosfer Samarinda saat ini dipengaruhi interaksi sejumlah faktor. Salah satunya keberadaan sistem siklon di wilayah Laut Cina Selatan yang berpengaruh terhadap pergerakan massa udara dan awan, kemudian diperkuat pola angin monsun Australia.

Kondisi tersebut membuat persoalan kualitas udara Samarinda tidak hanya berkaitan dengan sumber asap, tetapi juga bagaimana kondisi atmosfer menahan asap tersebut di lapisan dekat permukaan.

“Secara otomatis menarik beberapa awan hujan dari daerah lain dibantu dengan adanya angin dari monsoon Australia sehingga awan-awan tadi berkumpul di wilayah Samarinda sehingga terjadi tutupan awan yang cukup banyak seperti itu,” paparnya.

Hujan Belum Jadi Penyelamat dalam Waktu Dekat

Di tengah kualitas udara yang memburuk, hujan juga belum menjadi solusi yang bisa diandalkan dalam waktu dekat. BMKG masih mencatat potensi curah hujan di Kaltim pada Dasarian II September berada dalam kategori rendah, yakni 0–20 milimeter.

Rahman mengatakan sebagian wilayah Kaltim sebelumnya memang diprediksi baru memasuki periode peralihan menuju musim hujan sekitar September hingga Oktober. Namun, BMKG belum menetapkan secara resmi kapan musim hujan berakhirnya kemarau untuk Samarinda.

“Dan sejauh ini kami memang belum memberikan update untuk perakhiran musim hujannya, tapi kedepannya akan diberikan. Kemungkinan di bulan Oktober,” katanya.

Ia menyebut Oktober menjadi periode yang mulai menunjukkan peluang perbaikan curah hujan. Meski demikian, BMKG masih menunggu analisis lanjutan sebelum menetapkan berakhirnya musim kemarau secara resmi.

PM2.5 Masuk Kategori Tidak Sehat

Tekanan terhadap kualitas udara pun terlihat dari parameter PM2.5 yang dipantau BMKG. Rahman mengatakan sejak pagi kualitas udara Samarinda memang berada pada kategori tidak sehat.

“Dari pagi dan sampai sekarang itu berada dalam kategori tidak sehat,” ujarnya.

BMKG mengklasifikasikan konsentrasi PM2.5 sebesar 55,5–150,4 µg/m³ sebagai kategori tidak sehat. PM2.5 sendiri merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Rahman kembali menegaskan, keberadaan asap menjadi faktor penting dalam kondisi tersebut.

“Dari asap yang cenderung berada di bawah permukaan,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :