PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Jangan Terkecoh Hujan, Kemarau di Samarinda Belum Berakhir hingga Oktober–November

Home Berita Jangan Terkecoh Hujan, Ke ...

Hujan deras mengguyur sejumlah kawasan Samarinda dalam dua hari terakhir, tetapi BMKG belum melihat itu sebagai tanda musim kemarau berakhir.


Jangan Terkecoh Hujan, Kemarau di Samarinda Belum Berakhir hingga Oktober–November
Prakirawan Cuaca BMKG Samarinda menjelaskan hujan yang terjadi dua hari belakangan di Samarinda. Ekspos Kaltim/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda– Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kota Samarinda dalam dua hari terakhir ternyata belum menjadi penanda bahwa musim kemarau telah berakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) justru memperkirakan kondisi kemarau masih berlangsung sepanjang September, sementara awal musim hujan baru diprediksi terjadi sekitar akhir Oktober hingga awal November.

Prakirawan Cuaca BMKG, Gilang Arya, mengatakan hujan yang terjadi belakangan memang cukup signifikan di sejumlah titik. Dari hasil pengukuran, curah hujan tercatat sekitar 40–50 milimeter. Namun, kondisi tersebut belum mengubah prakiraan umum untuk periode dasarian terakhir September yang masih berada pada kategori curah hujan rendah, yakni 0–20 milimeter.

“Tapi kemarin kita tahu sendiri hujannya lumayan lebat, itu kami ukur sekitar 50mm, 40-50mm,” ujar Gilang kepada EksposKaltim pada Selasa (29/9).

Menurutnya, hujan tetap berpotensi terjadi meskipun Samarinda masih berada dalam periode kemarau. Hanya saja, hujan yang muncul pada masa ini tidak serta-merta menunjukkan perubahan musim karena sifatnya masih terbatas dan dipengaruhi kondisi atmosfer maupun faktor lokal.

“Meskipun ini musim kemarau, bukan berarti nggak ada hujan sama sekali. Hujannya tetap ada tapi singkat aja atau sedikit aja,” katanya.

BMKG juga memperkirakan potensi hujan masih muncul pada dasarian berikutnya. Namun, hujan yang terjadi di Samarinda dalam beberapa hari terakhir disebut lebih banyak dipengaruhi faktor lokal.

Gilang menjelaskan siklon tropis yang sebelumnya turut dipantau BMKG kini mulai menjauh. Di sisi lain, penguapan di wilayah Samarinda cukup tinggi karena kondisi geografis yang berdekatan dengan Sungai Mahakam dan laut. Perubahan angin di lapisan atas setelah pengaruh siklon juga menjadi salah satu faktor yang dapat memicu pertumbuhan awan dan hujan.

“Itu bisa jadi faktor yang mengakibatkan hujannya yang terjadi dua hari terakhir ini,” ujarnya.

Tak Merata, Samarinda Utara Masih Minim Hujan

Hujan dua hari terakhir juga belum terjadi secara merata di seluruh wilayah Samarinda. Berdasar pantauan sejumlah pos hujan BMKG yang tersebar di Kota Tepian, intensitas hujan berbeda antarwilayah. Gilang menyebut wilayah pusat kota menjadi salah satu kawasan yang mendapat hujan, sementara Samarinda Utara justru belum mengalami hujan berarti.

“Bahkan di Samarinda Utara itu tidak hujan sama sekali. Cuma gerimis kecil,“ kata dia.

Kondisi tersebut sekaligus menjelaskan mengapa hujan yang turun belum mampu menghilangkan kabut asap yang masih terlihat di sejumlah kawasan Samarinda.

Menurut Gilang, hujan dalam satu atau dua hari belum cukup untuk menurunkan konsentrasi asap yang telah terbentuk setelah periode kering panjang. Hujan yang terjadi secara berkala dan berkelanjutan dibutuhkan agar intensitas asap berangsur turun.

Sebaliknya, apabila hujan kembali berhenti dalam beberapa hari atau bahkan sepekan, potensi asap masih akan bertahan.

“Tapi kalau hujannya cuma terjadi sehari dua hari, terus kemudian besoknya tidak hujan atau bahkan seminggu ke depan tidak hujan, itu potensi asapnya masih ada,” lanjut Gilang.

Terkait apakah hujan dua hari terakhir menjadi tanda kemarau segera berakhir juga dijawab BMKG dengan cukup tegas. Gilang mengatakan, prakiraan awal musim hujan memang sudah disusun, tetapi informasi resminya masih menunggu rilis BMKG.

Untuk September, Samarinda masih diperkirakan berada dalam periode kemarau. Awal musim hujan diperkirakan baru berada pada rentang akhir Oktober hingga awal November.

“Jadi untuk September ini kami ekspeknya masih kemarau,” ujarnya.

Bahkan, berdasarkan perkembangan indeks ENSO yang dipantau BMKG, terdapat indikasi kondisi El Nino berlangsung hingga akhir tahun dan awal tahun berikutnya. Karena itu, BMKG belum melihat adanya indikasi kuat bahwa kemarau akan berakhir lebih cepat dari perkiraan.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa prakiraan musim hujan secara resmi tetap akan disampaikan BMKG melalui rilis khusus.

Situasi tersebut membuat masyarakat tetap diminta tidak menganggap hujan yang turun sebagai tanda bahwa ancaman akibat kondisi kemarau dan asap telah berakhir.

BMKG mengingatkan, meski masih berada dalam musim kemarau, hujan dengan intensitas lebat tetap dapat terjadi. Pada saat yang sama, asap masih menjadi ancaman ketika hujan tidak turun secara berkelanjutan.

“Karena kan meskipun musim kemarau, hujan lebat itu bukan berarti tidak mungkin terjadi. Tapi tetap waspada, selalu menggunakan masker, dan menjaga kesehatan,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :