PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Pemkot Bontang Evaluasi MBG Setelah 24 Siswa Diduga Keracunan

Home Berita Pemkot Bontang Evaluasi M ...

Jumlah penerima manfaat yang mengalami gejala usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang bertambah menjadi 24 siswa dari tiga sekolah. Pemkot kini menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebabnya.


Pemkot Bontang Evaluasi MBG Setelah 24 Siswa Diduga Keracunan
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Foto: Dok.Ekspos

EKSPOSKALTIM, Bontang - Pemerintah Kota Bontang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaporkan menimpa 24 siswa di tiga sekolah.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan Dinas Kesehatan dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) telah melakukan pengambilan sampel makanan guna memastikan sumber keluhan yang dialami para siswa.

Menurut Neni, setiap makanan yang didistribusikan dalam program MBG memang disimpan sebagai sampel selama beberapa hari untuk mengantisipasi kejadian yang membutuhkan penelusuran lebih lanjut.

"Pemerintah tentu harus hadir. Kita sudah lakukan tindakan cepat dengan menerjunkan tim surveillance dan menguji sampel makanan, baik uji biologi maupun kimia di Labkesda Bontang. Hasil resminya mungkin akan diumumkan sore ini oleh Dinas Kesehatan, kita tunggu saja," kata Neni, Jumat (7/8).

Ia menjelaskan sejauh ini penyelenggara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah menerapkan standar operasional yang ketat, mulai dari pengawasan ahli gizi, penghitungan kebutuhan nutrisi, hingga penggunaan alat pelindung saat proses pengolahan makanan.

Meski demikian, pemerintah tetap membuka kemungkinan adanya berbagai faktor yang menyebabkan munculnya gejala pada siswa, termasuk potensi kontaminasi maupun kondisi kesehatan penerima manfaat.

Neni mengaku pemerintah daerah selama ini juga aktif melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG, termasuk memantau proses distribusi dan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.

"Insiden seperti ini tentu tidak kita inginkan. Namun, kejadian ini tentu jadi bahan evaluasi agar ke depan pengawasan jauh lebih ketat," ujarnya.

Ia meminta masyarakat khususnya para orang tua siswa, untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum hasil laboratorium keluar. Menurutnya, seluruh proses investigasi masih berlangsung dan harus didasarkan pada bukti ilmiah.

Di sisi lain, Neni menilai program MBG memiliki manfaat besar tidak hanya bagi pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga terhadap perputaran ekonomi lokal karena melibatkan pemasok bahan pangan dari masyarakat.

Karena itu, Pemkot Bontang berkomitmen terus mendampingi seluruh mitra pelaksana agar program berjalan sesuai standar keamanan pangan dan ketentuan yang berlaku.

"Insyaallah pemerintah selalu hadir untuk mendampingi seluruh mitra pelaksana MBG dalam menyajikan makanan sesuai standar gizi dan prosedur yang baik," pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :