EKSPOSKALTIM, Jakarta - Likuiditas ekonomi nasional masih terjaga. Bank Indonesia mencatat uang beredar (M2) pada Agustus 2026 tumbuh 8,2 persen secara tahunan, melanjutkan tren positif meski sedikit melambat dari Juli yaitu 8,3 persen.
Pertumbuhan ini mendorong percepatan penyaluran kredit perbankan. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tekanan terhadap margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) perbankan masih dalam batas wajar.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan NIM bank pada Juli 2026 tercatat 4,32 persen, turun dari 4,57 persen pada periode yang sama tahun lalu.
“Kinerja NIM mempengaruhi biaya dana yang juga mempengaruhi suku bunga global, struktur kepemilikan dana, dan tingkat persaingan antarbank,” ujar Dian dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah tingginya cost of fund di tengah suku bunga yang masih relatif tinggi. Persingan penghimpunan dana membuat bunga simpanan naik, sementara bunga kredit tidak bisa terakumulasi terlalu tinggi karena harus menjaga kemampuan bayar debitur.
“Kondisi ini menyebabkan tekanan terhadap NIM menjadi cukup sulit dihindari. Meski demikian, tingkat profitabilitas perbankan secara umum masih tergolong sangat baik,” jelasnya.
Sinergi fiskal-moneter juga terus diperkuat. Kemenkeu dan BI sepakat menjaga defisit APBN 2026 di bawah 3 persen untuk menjaga stabilitas di tengah melemahnya rupiah dan harga minyak global.

