Gangguan listrik 3 bulan lumpuhkan usaha peternakan ayam Filipina di Kilo 3 Bontang. Peternak hentikan produksi, 500 telur gagal tetas dan 200 anak ayam mati, rugi ratusan juta.
EKSPOSKALTIM, Bontang - Gangguan pasokan listrik yang belum stabil selama hampir tiga bulan berdampak serius terhadap usaha peternakan ayam Filipina milik Edi Susanto di kawasan Kilo 3, Kota Bontang.
Tak hanya hentikan produksi, ratusan telur gagal menetas dan ratusan anak ayam mati. "Saya sudah tidak produksi sekitar 2 bulan lebih ini," katanya saat ditemui, Jumat (30/10/2026).
Edi terpaksa hentikan sementara aktivitas penetasan telur karena mesin tetas butuh pasokan listrik stabil selama 27 hingga 28 hari.
Suhu di dalam mesin harus terjaga terus-menerus agar embrio berkembang hingga menetas.
Menurutnya, pemadaman 2 hingga 3 jam saja berisiko merusak telur, terutama yang sudah beberapa hari di mesin.
"Lebih baik tidak saya masukkan ke mesin penetas daripada nantinya rusak semua. Kalau sudah rusak, telur itu juga tidak bisa dikonsumsi," jelasnya.
Dampak sudah dirasakan sejak awal pemadaman. Sekitar 500 butir telur yang sebelumnya masuk mesin penetas gagal berkembang dan akhirnya membusuk.
Jika dihitung harga jual telur ayam Filipina untuk bibit Rp50 ribu per butir, kerugian dari 500 telur diperkirakan Rp25 juta.
Kerugian tak berhenti di situ. Edi juga kehilangan sekitar 200 ekor anak ayam usia 15 hingga 20 hari akibat kandang tak mampu jaga suhu dan pencahayaan saat listrik padam.
Dengan nilai anak ayam sekitar Rp500 ribu per ekor, potensi kerugian mencapai Rp100 juta.
"Anak ayam itu butuh makan dan perawatan selama 24 jam. Kami biasanya membuat boks khusus dan memasang lampu supaya suhunya tetap hangat. Ketika listrik mati, itu menjadi kendala besar," ungkapnya.
Kini, Edi memilih tak lagi jalankan proses penetasan. Padahal sebelumnya usaha itu jadi sumber penghasilan dari penjualan telur maupun anak ayam.
"Saya punya dua mesin penetas, tapi satunya rusak karena padam listrik berjam-jam dalam beberapa hari," akunya.
Sebelum gangguan listrik, produksi telur bisa 100 hingga 150 butir. Saat ini indukan aktif bertelur terbatas sekitar 50 butir saja.
Telur yang dihasilkan tak lagi dikumpulkan untuk ditetaskan pakai mesin, melainkan dibiarkan dierami induk atau dijual untuk konsumsi.
Selama produksi terhenti lebih dari dua bulan, Edi hanya andalkan ayam-ayam yang sebelumnya sudah berukuran besar untuk dipelihara.
Namun kondisi itu tak cukup gantikan pendapatan dari aktivitas penetasan.
"Saat ini saya belum berani kembali memproduksi bibit ayam sebelum ada kepastian pasokan listrik kembali stabil," keluhnya.
Sebab proses penetasan butuh waktu hampir sebulan dengan suhu harus terjaga. Setelah menetas, anak ayam juga masih butuh pencahayaan dan penghangat.
"Kalau pemadaman sebulan sekali mungkin masih bisa diprediksi. Karena umur telur sampai menetas itu 27 hingga 28 hari. Tapi kalau mati lampu satu sampai lima jam, terus matinya berkali-kali dalam sebulan, ya kami sulit memastikan proses penetasan bisa berhasil," pungkasnya.

