PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Ketika Kamera Menemukan Penghuni Lama Hutan Kutai

Home Berita Ketika Kamera Menemukan P ...

Ada yang sempat dikira menghilang, lalu tiba-tiba muncul kembali di depan lensa kamera. Dari macan dahan hingga burung-burung langka, Taman Nasional Kutai menyimpan kisah tentang satwa liar yang diam-diam masih menjaga eksistensinya di salah satu hutan terpenting Kalimantan.


Ketika Kamera Menemukan Penghuni Lama Hutan Kutai
Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi) merupakan subspesies liar berstatus terancam punah yang mendiami area hutan pedalaman TNK. Foto: ANTARA/HO-Dok Balai TNK

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Di dalam rimba Taman Nasional Kutai, tidak semua penghuni hutan mudah ditemui manusia. Sebagian memilih bersembunyi di balik rapatnya vegetasi tropis, sebagian lain hanya meninggalkan jejak yang sulit ditafsirkan.

Karena itu, ketika sebuah kamera jebak akhirnya merekam kemunculan macan dahan, temuan tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi para penjaga kawasan konservasi. Satwa liar yang sebelumnya sempat diduga tak lagi terlihat itu ternyata masih bertahan di salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati Kalimantan Timur.

“Walaupun membutuhkan waktu hingga bulan ketiga agar hewan terbiasa dan mulai terekam, instrumen kamera jebak sangat membantu dalam menemukan kembali satwa langka,” kata Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Syaiful Bahri.

Temuan tersebut menjadi salah satu potret dari kekayaan fauna yang masih hidup di kawasan Taman Nasional Kutai. Balai TNK mencatat sedikitnya 324 spesies fauna menghuni kawasan konservasi seluas 193.753,42 hektare itu.

Jumlah tersebut terdiri atas 90 jenis mamalia, 196 jenis kupu-kupu, serta 38 jenis fauna gua yang tersebar di berbagai tipe ekosistem dalam kawasan.

Di antara ratusan spesies tersebut, terdapat sejumlah satwa yang menjadi fokus utama perlindungan karena statusnya yang terancam punah. Mereka adalah orangutan Kalimantan timur laut (Pongo pygmaeus morio), bekantan (Nasalis larvatus), dan banteng liar Kalimantan (Bos javanicus lowi).

Bagi pengelola kawasan, menjaga satwa-satwa tersebut tidak lagi hanya mengandalkan patroli lapangan. Seiring perkembangan teknologi, pemantauan kini diperkuat menggunakan drone thermal dan kamera jebak yang ditempatkan di sejumlah titik strategis.

Selain merekam kembali keberadaan macan dahan, kamera tersebut juga menangkap pergerakan burung tokhtor Kalimantan. Alat pemantau itu turut membantu memastikan keberadaan burung kuau yang sebelumnya sempat ditemukan di wilayah Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur.

Di balik berbagai temuan itu, tantangan konservasi tetap tidak ringan. Kawasan Taman Nasional Kutai membentang melintasi wilayah Kota Bontang, Kabupaten Kutai Timur, dan Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan dominasi hutan dipterokarpa seluas lebih dari 145 ribu hektare.

Luasnya kawasan membuat perlindungan satwa tidak bisa dilakukan sendiri oleh pengelola taman nasional.

Karena itu, Balai TNK menggandeng sejumlah lembaga konservasi untuk memperkuat upaya penyelamatan fauna. Salah satunya melalui kerja sama dengan Yayasan Jejak Pulang di Samboja yang saat ini melakukan kajian kelayakan habitat sebagai lokasi pelepasliaran orangutan yang telah siap kembali ke alam bebas.

Kolaborasi lain dilakukan bersama Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin) dalam mendukung perlindungan populasi banteng liar Kalimantan yang tersisa di kawasan taman nasional.

Namun bagi Syaiful, masa depan konservasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau lembaga pendamping. Peran masyarakat sekitar kawasan juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan habitat satwa liar.

Pelibatan warga dilakukan melalui pengembangan wisata minat khusus dan program perhutanan sosial yang melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pendekatan tersebut diharapkan menjadikan masyarakat sebagai garda terdepan perlindungan hutan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari kelestarian kawasan.

Di tengah perubahan bentang alam yang terus terjadi di berbagai wilayah Kalimantan Timur, rekaman kamera-kamera itu membawa pesan sederhana. Bahwa jauh di balik rimbunnya hutan Kutai, para penghuni lama masih ada. Mereka masih berjalan, terbang, mencari makan, dan mempertahankan ruang hidup yang tersisa.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :