PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Kebanjiran Berita Bencana, Waspada Lelah Mental

Home Berita Kebanjiran Berita Bencana ...

Paparan arus informasi yang masif, terutama terkait bencana, tidak hanya berdampak pada korban langsung. Psikolog mengingatkan, konsumsi berita berulang setiap hari juga dapat memicu kelelahan mental hingga trauma tidak langsung pada masyarakat luas.


Kebanjiran Berita Bencana, Waspada Lelah Mental
Peserta meminum air nira saat mendengarkan musik tradisional menggunakan penyuara jemala saat Diseminasi Musik Terapi Laras Jiwa di Kebon Djati Eatry, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (22/1/2026). Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Asta Mekar menggelar terapi berbasis seni tradisional Sunda dengan memainkan alat musik secara langsung untuk membantu meredakan kecemasan dan meningkatkan kesehatan mental melalui pendekatan budaya lokal. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.

EKSPOSKALTIM - Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog mengingatkan paparan arus informasi, khususnya berita bencana, berpotensi memicu kelelahan mental. Bahkan pada individu yang tidak berada di lokasi kejadian.

Menurut Virginia, kondisi ini dikenal sebagai vicarious trauma atau secondary trauma, yakni reaksi psikologis yang muncul akibat paparan tidak langsung terhadap pengalaman traumatis orang lain.

“Fenomena ini menggambarkan kondisi psikologis seseorang setelah secara tidak langsung terpapar pengalaman traumatis orang lain,” ujar Virginia dikutip dari antara, Selasa (27/1). 

Psikolog lulusan Universitas Padjadjaran itu menjelaskan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan berulang, terutama setiap hari, terhadap berita bencana berupa gambar, video, atau narasi emosional dapat memicu respons stres yang menyerupai mereka yang mengalami peristiwa tersebut secara langsung.

Virginia menekankan kelelahan mental tidak mengenal jarak geografis. Seseorang tetap bisa mengalami dampak psikologis meski tidak terdampak secara fisik oleh bencana. Untuk mengurangi risiko tersebut, ia menyarankan masyarakat membatasi durasi konsumsi berita, misalnya hanya satu hingga dua kali dalam sehari dan memilih sumber informasi yang kredibel.

“Menyadari batasan pribadi itu penting. Empati tidak berarti harus menyerap seluruh emosi yang dirasakan para korban,” katanya.

Selain itu, Virginia menganjurkan penerapan teknik grounding, seperti pernapasan dalam atau memusatkan perhatian pada sensasi tubuh. Ia juga menyarankan menyeimbangkan empati dengan aksi nyata, seperti berdonasi atau menjadi relawan, selama kondisi mental individu memungkinkan.

Lebih lanjut, Virginia menyebut munculnya reaksi emosional seperti sedih, cemas, atau kelelahan mental merupakan hal yang wajar di tengah krisis berkepanjangan. Namun, terdapat sejumlah tanda yang patut diwaspadai.

“Ketika emosi negatif intens dan menetap lebih dari dua minggu tanpa perbaikan, disertai gangguan tidur atau mimpi buruk terus-menerus,” ujarnya.

Tanda lain yang perlu menjadi perhatian antara lain perasaan putus asa, mati rasa emosional, rasa bersalah berlebihan, kesulitan menjalani aktivitas harian seperti bekerja atau bersekolah, hingga pola ekstrem dalam mengonsumsi berita—baik menghindari sepenuhnya maupun mengecek secara kompulsif.

Virginia menegaskan jika muncul pikiran menyakiti diri atau keinginan untuk “menghilang”, maka bantuan profesional harus segera dicari.

“Apabila gejala-gejala ini sangat mengganggu keberfungsian atau semakin memburuk, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :