Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat kembali ditekankan menyusul meningkatnya kewaspadaan terhadap Hantavirus, terutama bagi warga yang beraktivitas di lingkungan dengan risiko paparan tikus dan debu terkontaminasi.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas IA Balikpapan mulai memperketat pengawasan di pintu masuk internasional, baik pelabuhan maupun bandara.
Langkah demikian diambil BKK guna mengantisipasi masuknya Hantavirus ke Kalimantan Timur, menyusul Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI tertanggal 10 Mei 2026.
Kewaspadaan nasional ini dipicu oleh kasus Hantavirus di luar negeri yang melibatkan strain Andes dengan tingkat fatalitas mencapai 60 persen.
"Strain Andes menyerang saluran pernapasan dan dapat menular antarmanusia melalui droplet maupun kontak erat. Hingga saat ini, varian ini memang belum ditemukan di Indonesia," ujar Ketua Tim Kerja Surveilans BKK Balikpapan, dr. Siti Hatijah, ditulis Jumat (15/5/2026).
Varian Seoul di Indonesia dan Risiko Ginjal
Siti bilang Hantavirus sebenarnya telah terdeteksi di Indonesia sejak 1991. Sepanjang tahun 2025 hingga 2026, terdapat 23 kasus konfirmasi di 9 provinsi, dengan temuan terbanyak di Jakarta dan Yogyakarta.
Namun, varian yang mendominasi di Indonesia adalah strain Seoul yang dibawa oleh tikus Asia dan Eropa. Berbeda dengan strain Andes yang menyasar paru-paru, strain Seoul menyerang organ ginjal dengan tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen.
BKK Balikpapan kini memfokuskan pengawasan pada rute penerbangan luar negeri seperti Singapura, Kuala Lumpur, dan Brunei Darussalam. Setiap pelaku perjalanan diwajibkan mengisi aplikasi All Indonesia dan melengkapi Satusehat Health Pass (SSHP).
"Pelaku perjalanan dikategorikan berdasarkan gejala dan riwayat perjalanan dari negara terjangkit seperti Panama, Uruguay, Argentina, dan Amerika Serikat. Jika ada indikasi, tindakan karantina segera dilakukan," jelas Siti.
Waspadai Tikus dan Gejala Mirip Leptospirosis
Penyebaran virus ini bersumber dari tikus melalui urine, feses kering yang terhirup, hingga gigitan. Kelompok yang paling berisiko adalah petugas kebersihan, pekerja konstruksi, petani, serta pegawai gudang.
dr. Siti memperingatkan bahwa masa inkubasi varian Seoul memakan waktu sekitar dua minggu. Gejala awalnya kerap menyerupai penyakit Leptospirosis, yakni demam tinggi dan lemas.
"Masyarakat diimbau konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Bagi pekerja berisiko, wajib menggunakan masker dan sarung tangan. Segera periksakan diri jika mengalami gejala setelah kontak dengan lingkungan yang tidak higienis," pungkasnya.



