PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Jejak Dakwah Damai di Mahakam: Di Balik Islamisasi Kerajaan Kutai

Home Berita Jejak Dakwah Damai Di Mah ...

Pendekatan dakwah tanpa paksaan yang dibawa Tuan Tunggang Parangan pada abad ke-16 disebut menjadi titik balik perubahan Kerajaan Kutai menjadi Islam dengan corak inklusif dan toleran.


Jejak Dakwah Damai di Mahakam: Di Balik Islamisasi Kerajaan Kutai
Makam Raja Aji Mahkota Islam (Raja Makota) merupakan pemimpin Kerajaan Kutai yang pertama kali memeluk Islam, berlokasi di Kutai Lama, Kalimantan Timur. ANTARA/Ahmad Rifandi.

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Perubahan besar dalam sejarah Kerajaan Kutai Kertanegara dari Hindu ke Islam tidak berlangsung melalui konflik, melainkan lewat pendekatan damai yang dibawa seorang ulama.

Sejarawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip menuturkan pendekatan dakwah yang inklusif dari keteladanan ulama Tuan Tunggang Parangan berhasil mengubah corak keyakinan kerajaan secara damai.

"Keputusan ini menandakan awal era baru bagi Kutai Kertanegara, karena Islam menjadi agama resmi kerajaan dengan corak religiusitas yang inklusif dan akomodatif serta mengusung toleransi antar-umat beragama," ujar Sarip di Samarinda, Minggu.

Ia mengatakan titik balik sejarah peradaban di tepian Sungai Mahakam tersebut bermula pada kurun waktu tahun 1575 ketika sang mubalig menginjakkan kaki di kawasan Tepian Batu.

Sarip menceritakan Raja Mahkota yang memimpin pemerintahan saat itu memberikan sambutan hangat dan secara terbuka menerima ajaran baru tersebut tanpa adanya paksaan.

Kesuksesan syiar agama ini dipengaruhi oleh karakter sang ulama yang karismatik serta selalu mengedepankan kelembutan dalam berinteraksi dengan penduduk lokal.

"Pengaruh pergeseran budaya ini juga tercermin dari pemberian nama bernuansa kearifan Islam bagi para putra mahkota, seperti Maharaja Sultan dan Raja Mandarsyah," ucap dia.

Jauh sebelum tiba di Tanah Borneo, tokoh penyebar agama ini sebenarnya telah menyepakati pembagian tugas dakwah lintas pulau bersama pemuka agama lain bernama Datuk Ri Bandang.

Kolaborasi para ulama tersebut awalnya menyasar wilayah Kesultanan Tanete di Sulawesi Selatan untuk meredakan ketegangan sosial akibat perbedaan pemahaman keyakinan.

Namun sebuah kabar mengejutkan mengenai kembalinya sebagian masyarakat Makassar ke kepercayaan leluhur, kata dia, memaksa Datuk Ri Bandang untuk segera berputar arah.

Kondisi mendesak itu membuat Tuan Tunggang Parangan harus menyeberangi Selat Makassar sendirian demi melanjutkan misi penyebaran ajaran tauhid ke Pelabuhan Kutai Lama.

Mengingat besarnya peninggalan jasa sang ulama di tengah dinamika sejarah tersebut, kata dia, pemerintah daerah melakukan pemugaran kompleks makamnya senilai satu miliar rupiah.

Proyek revitalisasi ini bertujuan menjadikan peristirahatan terakhir sang habib sebagai destinasi wisata religi, budaya, dan sejarah yang terintegrasi secara utuh.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :